Laman

Pelayanan Anak dan Pemuda

Selamat Datang, Syalom semoga tulisan ini Memberi inspirasi Bagi Pembaca.

Rabu, 11 Oktober 2017

TRINITAS DAN AGAMA PLURAL DI TENGAH POSTMODERNISME

Latar Belakang Trinitas
Dasar-dasar Alkitab, Matius 3:16-17, Ibrani 9:14, Roma 8:11, Matius, 28:18-19, kejadian 1:26-27. Rujukan trinitas adalah kejadian 1: 26-27, Von Rad mengatakan bahwa penciptaan merupakan puncak dan tujuan tertinggi yang menjadi arah dari semua aktivitas kreatif Allah. Driver mengakui bahwa Firman adalah pribadi dalam injil Yohanes dengan cara sama, personalisasi Roh Allah.[1]Philo berpendapat bahwa perikop mengenai trinitas (Kej 3:22, 11; Yes 6:8). Perikop itu merujuk pada kuasa subordinat yang menolong Allah dalam penciptaan manusia.[2]
  Kata Trinitas atau Tritunggal tidak terdapat dalam Alkitab. Dan kendati Tertullianus sudah menggunakan kata itu pada abad 2 M, barulah pada abad 4 kata ini mendapat tempat resmi dalam teologi Kristen. Tapi doktrin mengenai Allah Tritunggal inilah ajaran Kristen yg paling khas, dan ‘mencakup seutuhnya segenap unsur utama kebenaran yg diajarkan agama Kristen mengenai adanya kegiatan Allah dalam hanya satu istilah umum yg sangat luhur (Lowry). Teologi berusaha menerangkan keberadaan Allah dengan menyatakan, bahwa Allah satu dalam diriNya yg hakiki, tapi Ia berada dalam tiga cara atau bentuk, masing-masing merupakan Satu diri, namun dalam cara demikian hakikat Allah yg sebenarnya utuh dalam masing-masing diri. Harus diakui bahwa uraian mengenai Tritunggal mula-mula dikemukakan oleh ahli yg berbahasa Yunani.[3]
Allah sebagai Bapa, penyembahan Allah didasari atas transendensi Allah yang menciptakan seluruh isi bumi.  Hozea 11:3-4 menjelaskan konteks bapa yang mencintai dan mengasihi. Allah sebagai Roh, disamping firman- Nya Allah yang Esa itu memiliki Roh kudus yang keluar dari sang Bapa. Pada hakekatnya Allah adalah Roh yang bersama dengan sang Bapa dan dalam diri Bapa juga ada Firman yang disembah dan dimuliakan.Memahami ketritunggalan sama halnya dengan memahami hakekat Allah itu sendiri. Mustahil kita percaya kepada Allah tanpa memahami hakekat-Nya yang meskipun tidak terbatas tetapi berkenan memberikan penyataan tentang diri-Nya di dalam Alkitab sesuai dengan kemampuan akal kita yang terbatas.[4]Allah yang memiliki tiga pribadi dijelaskan dalam beberapa ayat yakni ulangan 6:4, 1 Korintus 8:4 dan galatia 3:20. Origen dari Aleksandria berpendapat bahwa Allah anak lebih rendah dari Bapa karena keluar dari Bapa. Namun pendapat ini ditolak oleh Tertulianus bahwa Yesus tidak rendah dari Bapa sebab diperanakkan dari Roh.[5]Konsep Allah yang Esa merupakan konsep yang terbesar bangsa Israel, konsep ini menerobos seluruh agama. Konsep Allah tritunggal menuntut sesuatu yang khusus.[6]
Allah TriTunggal yang dimaksud adalah Allah Yang Esa, yang memiliki 3 Pribadi. Pribadi Pertama biasa disebut Allah Bapa, Pribadi Kedua Allah Anak, Pribadi Ketiga Allah Roh Kudus. Pribadi Pertama(Bapa) bukanlah Pribadi Kedua(Anak), Pribadi Kedua bukanlah Pribadi Ketiga(Roh Kudus), dan Pribadi Ketiga bukanlah Pribadi Pertama(Bapa.) namun Ketiga-Nya tetap Esa secara esensi. Bagaimana bisa 3 pribadi yang berbeda tetapi tetap Esa? Didalam Kitab Kejadian ada sebuah kata yang menunjukkan keesaan Allah, yang dapat diartikan sebagai satu-kesatuan. Sebagai contoh (walaupun contoh ini tidaklah sempurna untuk menyatakan Keesaan Allah ) Pada saat Penciptaan, Allah menciptakan siang dan malam yang disebut satu hari. Kata yang menunjukkan 1 hari ini adalah kata satu kesatuan. Sehingga siang dan malam adalah satu kesatuan dari 1 hari. Siang bukanlah malam dan malam bukanlah siang, namun siang dan malam adalah satu-kesatuan dari 1 Hari. Penunjukkan kata satu-kesatuan ini pun ditunjukkan kepada satu-kesatuan dari Allah Yang Esa.[7]
Trinitas menurut Perjanjian Lama
Kendati ajaran ini tidak ‘berkibar’ dalam PL, Trinitas itu sudah tersirat dalam penyataan diri Allah sejak masa paling dini. Tapi selaras dengan sifat historis penyataan Allah, maka ajaran ini mula-mula dikemukakan hanya dalam bentukyg sangat bersifat bayangan saja. Ajaran ini tersirat bukan hanya dalam bagian-bagian tersendiri, tapi terajut di sepanjang bentangan ‘kain’ penyataan PL. Siratan paling tua ialah yg teracu dalam riwayat penciptaan, dimana Allah mencipta melalui Firman dan Roh (Kej 1:3). Di sini pertama kalinya diperkenalkan Firman Allah sebagai pribadi yg mempunyai kuasa mencipta, dan sekaligus diperkenalkan Roh Allah sebagai pembawa hidup dan ketertiban bagi seluruh ciptaan itu. Jadi dari sejak masa paling dini sudah dinyatakan suatu pusat kegiatan dari tiga yg satu seutuhnya. Allah sebagai Pencipta membuat alam semesta sebagai karya pikiran-Nya, mengungkapkan pikiran-Nya itu dalam wujud Firman, dan membiarkan RohNya bekerja sebagai asas yg menghidupkan. Justru alam semesta tidak terpisah atau lepas dari Allah, juga tidak bertentangan dengan Dia.
Kejadian 1:26 pernah dianggap menyatakan secara tidak langsung, bahwa penyataan Allah Tritunggal telah diberikan kepada manusia saat ia diciptakan, atas dasar bahwa manusia akan diberi persekutuan ilahi, tapi pemberian ini kemudian hilang karena manusia jatuh ke dalam dosa. Kegiatan Allah dalam penciptaan dan pemerintahan-Nya kemudian dihubungkan dengan Firman yg dipersonifikasikan sebagai Hikmat (Ams 8:22; Ayub 28:23-27), juga dihubungkan dengan Roh sebagai Pembagi segala berkat dan sumber kekuatan badani, semangat, kebudayaan dan pemerintahan (Kel 31:3; Bil 11:25; Hak 3:10).
Tiga yg satu seutuhnya sebagai sumber kegiatan yg dinyatakan dalam penciptaan alam semesta, nampak lebih jelas lagi dalam peristiwa penebusan orang berdosa. Penyataan penebusan itu dipercayakan kepada mal’akh (Malaikat) Yahweh (Kel 3:2) yg kadang-kadang disebut Malaikat Perjanjian. Dan setiap ay PL yg mengandung ungkapan ini merujuk kepada diri Allah, sebab jelas bahwa dalam ay-ay seperti 2Sam 24:16; 1Raj 19:5; 2Raj 19:35, rujukan itu mengartikan makhluk ilahi dengan kuasa ilahi yg ditugasi untuk melaksanakan tugas khusus. Tapi dalam beberapa ay, mis Kej 16:7; 24:7; 48:16 Malaikat Allah tidak hanya memakai nama Allah, tapi juga mempunyai martabat dan kekuasaan Allah, menyelenggarakan penyelamatan oleh Allah dan menerima penghormatan dan pemujaan yg sepatutnya hanya kepada Allah. Roh Allah juga diberi tempat khas dalam sejarah penyataan dan penebusan. Roh memperlengkapi Mesias untuk pekerjaan-Nya (Yes 11:2; 42:1; 61:1) dan memperlengkapi umat-Nya untuk menanggapi Mesias dengan iman dan ketaatan (Yoel 2:28; Yes 32:15; Yeh 36:26-27). Jadi Allah yg menyatakan diriNya secara objektif melalui Malaikat Utusan, juga menyatakan diriNya secara subjektif dalam dan melalui Roh Allah, Sang Pembagi segala berkat dan karunia-karunia dalam rangka penebusan. Ucapan Berkat Imam yg tiga dampak (Bil 6:24) juga dapat disimak mungkin sebagai bentuk pertama dari berkat dalam 2Korintus 13:14.
Pandangan John Calvin Tentang Trinitas
Allah dari diri-Nya sendiri, masalah trinitas adalah sebuah misteri yang tidak bisa diandaikan. Menurut Bellarmine Calvin mengatakan bahwa Yesus adalah autothetos, Allah dari Allah, artinya Bapa memiliki esensi yang tidak diciptakan yang ilahi, Anak dan Roh adalah esensi yang berbeda yang dihasilkan oleh Bapa.[8]Bapa sebagai principium, dengan  penekanan  mereka  terhadap  ketiga hipostases dalamada-kekal nyatalah bahwa mereka membebaskan  doktrin  Nicaeadari noda Sabellianisme di mata pengikut Eusebius, dan bahwapersonalitas Logos adalah cukup jelas. Bersamaan dengan  itudipertegas  dan  dipertahankannya  ide keesaan ketiga persontersebut di dalam Godhead sertamengilustrasikan  pengertianini dengan berbagai cara.
Di dalam Allah ada tiga sifat hipostaiseis (wujud) apa yang berada pada kenyataan. Sifat khas salah satu subsistensi yang tidak dapat dialihkan kepada yang lain. Terltulianus mengatakan di dalam diri Allah ada suatu pengaturan atau tata tertib suatu kenyataan hakikat.[9]
Agustinus mengatakan hubungan antar pribadi yang satu dengan lain bukan zat yang membuat ketiganya merupakan keesaan. Hal yang dimaksudkan adalah baik anak dan Roh Kudus maupun Bapa selalu bersama dengan Bapa. Anak Allah yang tunggal, yang lahir dari Sang BapaSebelum ada segala zaman, Allah dari AllahTerang dari Terang, Allah yang sejati dariAllah yang sejati, diperanakkan bukan dibuatSehakikat dengan sang Bapa.Terutama yang penting adalah Allah satu hakikatnya yang tidak dapat dibagi-bagi. Meskipun hakikat itu ada, Bapa Anak dan Roh Kudus.[10]
Trinitas dan Kesatuan
Persatuan dengan Allah tujuan dari keselamatan. Tritunggal bukan mengenai Allah yang terdiri dari tiga pribadi terpisah melainkan tiga ciri istimewa dari Allah yakni satu Aku dari sifat Allah.[11]Allah yang Esa tritunggal yang maha kudus.Allah Tritunggal terdiri dari Allah Bapa, Allah Anak yang dalam diri Yesus Kristus berinkarnasi menjadi manusia dan Allah Roh Kudus yang diutus setelah Yesus naik ke Sorga untuk menyertai orang percaya. Ketiga nya adalah Allah yang kekal, berbeda satu sama lain dan setara.
Allah Bapa, Allah Anak (Yesus) dan Allah Roh Kudus adalah Allah yang esa. Bagaimana kita bisa memahami konsep tritunggal ini? Bagaimana memahami Allah itu ada tiga tetapi satu, bagaimana memahami Allah itu satu tetapi tiga? Orang yang memahami bahwa Allah itu hanya esa saja jelas tidak mengerti konsep Allah Tritunggal yang diwahyukan Alkitab. Orang yang mengatakan bahwa Allah itu ada 3 pribadi yang terpisah sama sekali, jelas juga tidak mengerti Allah Tritunggal yang diwahyukan oleh Alkitab.
Dengan menyusun formula lain untuk menjelaskan konsep ini malah akan menyesatkan ajaran yang sejati ini. Doktrin ini telah dirumuskan dengan cara yang terbaik sejak ratusan tahun yang silam! Namun tetap saja ada orang yang membuat ilustrasi dengan tujuan untuk membantu menjelaskan keadaan Allah Tritunggal. Ilustrasi yang popular antara lain: Ilustrasi teh manis dengan komponen: air, teh dan gula, ketiga komponen menjadi satu. Ilustrasi segitiga sama sisi, ketiga sisi membentuk satu buah segitiga yang utuh.
Bagi orang Kristen, semua ini bersandar pada iman kepada Tuhan dan seseorang yang Tuhan bangkitkan dari kematian demi kehidupan, sebagai yang lemah dan tanpa pertolongan, seseorang yang dijanjikan ‘Kyrios’ dan ‘Christos’ oleh Tuhan. Akan tetapi, tidakkah perdirian tentang iman a priori seperti ini menghapus dialog dengan penganut keyakinan yang lain?sebagai orang Kristen- ditantang untuk merefleksikan kembali pertanyaan tentang kebenaran dalam spirit kebebasan dengan dasar Kristen. Oleh karena bertentangan dengan kesemena-menaan, kebebasan bukanlah sekedar kebebasan dari seluruh ikatan dan kewajiban dalam pengertian negatif, tetapi pada saat yang sama, dalam pengertian positif.[12]
Ajaran Tritunggal mengatakan bahwa Allah satu dalam harkat dan hakikat-Nya, tapi dalam diriNya ada tiga Oknum yg tidak membentuk perseorangan yg tersendiri dan berbeda. Ketiga Oknum itu adalah tiga cara atau bentuk dalam mana Allah berada. Tapi ‘Oknum’ adalah ungkapan yg tidak sempurna untuk mengungkapkan kebenaran itu, karena ungkapan ini mengartikan kepada kita perseorangan yg tersendiri, yg berbudi dan bisa memilih. Padahal dalam harkat Allah ada BUKAN tiga perseorangan, tapi hanya tiga pembedaan diri dalam Allah yg satu seutuhnya.
Kepribadian manusia mencakup kebebasan berkehendak, bertindak dan merasa, yang mencirikan tingkah laku manusia itu. Semua hal itu tidak dapat dihubungkan dengan Allah Tritunggal: tiap Oknum mempunyai kesadaran sendiri dan penguasaan diri sendiri, tapi tidak pernah bertindak sendiri-sendiri apalagi bertentangan. Mengatakan bahwa Allah esa, maksudnya ialah kendati Allah pada diriNya adalah pusat kehidupan tri mitra, namun hidup-Nya tidaklah terbelah tiga atau trilateral—tiga pihak yg berbeda. Ia satu dalam hakikat, kepribadian, dan kehendak. Mengatakan bahwa Allah Tritunggal dalam Keutuhan, maksudnya ialah keutuhan dalam keanekaan, dan keanekaan itu nampak dalam tiga Oknum, dalam sifat, dan dalam tindakan. Lagipula substansi dan tindakan-tindakan ketiga Oknum itu dicirikan oleh urutan tertentu, berupa subordinasi dalam soal hubungan, tapi tidak dalam kodrat. Bapak sebagai sumber ke-Allah-an ialah yg Pertama: asal mula dari segala sesuatu. Anak, yang diperanakkan kekal oleh Bapak, yang Kedua, Dialah yang menyatakan Bapak. Roh Kudus yg kekal yg keluar dari Bapak dan Anak, yang Ketiga, Dia-lah yang melaksanakan. Karena ketiga Oknum itu ilahi dan kekal, maka subordinasi itu tidaklah mengartikan ada yang lebih utama daripada yang lain, tapi memaksudkan urutan giliran dalam tindakan dan penyataan. Jadi dapat dikatakan bahwa ciptaan adalah dari Allah Bapa, melalui Allah Anak, oleh Roh Kudus.
Ungkapan Bapa da dalam Yesaya 63:16;
Bukankah Engkau Bapa kami? Sungguh, Abraham tidak tahu apa-apa tentang kami, dan Israel tidak mengenal kami. Ya TUHAN, Engkau sendiri Bapa kami; nama-Mu ialah "Penebus kami" sejak dahulu kala.

Dalam keluaran 4: 23, Yeremia 31:9. Sebab itu Aku berfirman kepadamu: Biarkanlah anak-Ku itu pergi, supaya ia beribadah kepada-Ku; tetapi jika engkau menolak membiarkannya pergi, maka Aku akan membunuh anakmu, anakmu yang sulung.
Trinitas dan Tantangan Pluralisme dalam Kaitan dengan Postmodenisme
Postmodern bagi Hans Küng adalah mampu menyediakan dasar bagi pencarian fungsi kritis dan berdaya bebas baik dari individu maupun masyarakat.[13] Dalam hal ini manusia satu dengan yang lainnya tidak dalam kesatuan tetapi dalam kepelbagaian. Dengan adanya kepelbagaian maka diajukan sebuah konsep yakni ekumene, maka dua arah teologis yang perlu dikembangkan yakni sebuah teologi ekumene yang berwawasan ekologis, yang menempatkan manusia dalam konteks lingkungan semesta, kedua perlu kehadiran sesama yang beriman lain dalam konteks dunia yang satu ini.Keesaan Allah menjadi pokok pengajaran Perjanjian Lama terkait dengan masalah pluralisme agama.Hal ini nampak dimana Allah mengajarkan umatnya dengan menyatakan diriNya sebagai Tuhan, Allah mereka yang membawa mereka keluar dari tanah Mesir (Kel 20:2).[14]Melalui sains modern dan filasafat maka sekularisasi itu berkembang  hingga mengkaji teks-teks Alkitab dari berbagai segi. Upaya Sekularisasi dan  formalisasi agama terus berjalan bersama-sama.
Pluralisme modern merupakan pergeseran pandangan hidup. Penekanan pada metaanaratif rasionalisme bergeser pada pandangan pluralis. Tidak ada kebenaran tunggal dan beranekaragaam kelompok pembebasan. Tidak ada lagi koordinatif tunggal. Postmodernisme mengaanut paham relativisme dan kebebasan mengungkapkan kebenaran.[15]
Analisis
            Karl Rahner mengemukakan iman pribadi untuk merumuskan misteri ketritunggalan Allah bahwa yang abadi itu tidak terbatas, misteri ini sangat luas dan padat. Misteri ini merupakan dasar segala sesuatu ruang dan kebebasan dan misteri ini kusebut Allah.[16]Karl Rahner mengatakan bahwa “memang keselamatan ada dalam Yesus Kristus, namun gereja tidak boleh mengutuk agama lain sebagai agama palsu  dan tidak memiliki keselamatan”, Kristus juga ada dalam agama lain, hanya saja Kristus dalam agama lain adalah “Kristus  tak bernama” (anonymous Christ).[17] Manusia mengakui bahwa Allah, Tuhan yang Maha Esa adalah Tuhan (Rabb) manusia. dengan lain perkataan sebutan Allah langsung menunjuk pada yang Mahaesa, sedangkan Tuhan lebih merupakan suatu gelar. Dengan akibat bahwa manusia bisa menyembah aneka “Tuhan” yang sesungguhnya bukan Allah.
Kritik agama pada pokoknya merupakan penilaian atau evaluasi agama; juga mawas diri yang tidak dengan sendirinya bersifat negatif. Tujuannya supaya orang menjadi lebih sadar mengenai apa yang biasanya dilakukan berdasarkan tradisi. sebab dengan agama tidak hanya dimaksudkan sejumlah ritus atau symbol, tetapi terutama hubungannya dengan iman atau keyakian religious. Dalam hal ini tidak boleh melupakan aspek historis, baik hubungan dengan asal-usul agama itu maupun dengan perkembangan bentuknya. Kritik agama bersifat ekstern maupun intern, karena agama tidak hanya ekstern tetapi intern juga. namun agama adalah primer ungkapan iman, dan karena itu kritk agama pertama-tama bersifat ekstern, menyangkut bentuk-bentuk kehidupan agama. Krtitik itu pertama-tama terarah kepada unsur-unsur yang berasal dari dan terikat pada kebudayaan dan situasi historis tertentu.

Kesimpulan
            Implikasi-implikasi doktrin Tritunggal sangat vital bagi teologi dan juga bagi pengalaman dan hidup Kristen. Berkaitan dengan ke-Allah-an, doktrin ini menyatakan bahwa Allah benar-benar hidup. Dan bahwa Allah jauh sama sekali dari apa pun yg disebut berhenti atau pasif. Allah Tritunggal adalah keutuhan dan kepenuhan hidup, berada dalam hubungan yg kekal, dan dalam persekutuan yg tak pernah putus atau berhenti. Hal ini membuat penyataan dan pengungkapan diri Allah dapat dimengerti. Allah, dalam arti mutlak, dapat mengungkapkan diriNya sendiri melalui tindakan penyataan diri sendiri antara ketiga Oknum itu. Dia dapat juga dalam arti terbatas, mengungkapkan diriNya ke luar melalui penyataan diri sendiri berkomunikasi terhadap ciptaan-Nya.
Alam semesta doktrin Tritunggal mengupayakan kesatuan dan keanekaan, membuat alam semesta menjadi suatu kosmos dalam keteraturan. Karena semua hal tergantung pada kehendak baik Allah, maka tak mungkin ada dualisme di pusat alam semesta. Tapi ada tempat bagi keanekaan yg tak terhingga. Kita dapat berkata bahwa keanekaan hidup dalam Allah dipantulkan dalam alam semesta berupa bentuk-bentuk hidup yg berbeda-beda secara luas. Hidup Allah bisa mendapati bermacam-macam manifestasi, dan hal ini memberi kejamakan unsur dan kejamakan sisi kepada alam semesta yang Dia rencanakan ini. Lagipula, persekutuan yang mengikat Allah Tritunggal, menjadi dasar bagi persekutuan lingkungan umat manusia, lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat, dan secara istimewa dalam lingkungan gereja, karena di situ Roh Kudus menjadi petugas dan pengantara persekutuan itu.
Umat Kristen meyakini bahwa trinitas dapat dikatakan bahwa pemeliharaan dan pemerintrahan Allah Bapa terhadap ciptaan-Nya. Penebusan dosa di dalam korban Yesus Kristus Anak Allah. Roh Kudus sebagai Roh Allah yang berada di tengah Jemaat. Allah yang disembah adalah Allah yang Esa, keesaan-Nya bukan keesaan dalam hubungan manusia.



Daftar Pustaka
Ariarajah, Wesley.Alkitabdan Orang-orang yang berkepercayaan lain. Jakarta: BPK GunungMulia, 2003.
Bambang, Arkhimandrit Daniel. Allah Tritunggal. Jakarta: Satya Widya Graha, 2001.
Darmaputera, Eka.PergulatanKehadiran Kristen di Indonesia. Jakarta: BPK GunungMulia, 2001.
Jabcos, Tom Trinitas. Yogyakarta: Kanisius, 2005), 32-33.
Junimen, Jenus. Trinity of God. Yogyakarta: Andi Offset, 2011.
Kobong,Th. KeselamatanBagiSemua Orang? PluralitasdanPluralismesekaliLagi.Rantepao :PenerbitSulo, 2006
Letham,Robert.  Allah Trinitas dalam Alkitab, Sejarah, Theologi dan Penyembahan. Surabaya: Momentum, 2011.
Sumakul, H.W.B. Postmodernitas. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2012
Suseno,FransMagnis.PosmodanTantangandalampemulihanMartabatManusia.Jakarta: Grasindo, 2000.
Tanya, Viktor I.Spiritualitasdan Pembangunan di Indonesia.Jakarta: BPK GunungMulia, 1996.
Tong,Stephen. Allah Tritunggal. Surabaya: Momentum, 2010.
Diktat
Pandia,WismaTeologi Pluralisme Agama-Agama, Sekolah Tinggi Teologi Philadelpia, 8 Mei 2013
Internet
Men_Supernova,Doktrin Allah Tritunggal, :Re: DoktrinTrinitas, akses tanggal 6 Mei 2013


Lampiran
Nama Lengkap : Ezra Tari
Alamat : Jl. Untung Surapati, Gang Kincir RT 11, Rw 5, Kupang Nusa Tenggara Timur
Gelar Akademik : M.Th
Almamater : STT Jaffray Makassar
Jabatan Terakhir : Dosen STAKN Kupang
Bidang Pelayanan dan Minat : Koloqium Perjanjian Baru




[1]Robert  Letham, Allah Trinitas dalam Alkitab, Sejarah, Theologi dan Penyembahan (Surabaya: Momentum, 2011), 19
[2]Ibid, 20
[3]J. R Illingworth, The Doctrine of the Trinity, 1909; C. W Lowry, The Trinity and Christian Devotion, 1946; A. E Garvie, The Christian Doctrine of the Godhead, 1925; H. Bavinck, The Doctrine of God, 1951,  255-334;
[4]Arkhimandrit Daniel Bambang, Allah Tritunggal, (Jakarta: Satya Widya Graha, 2001), 152-153
[5]Jenus Junimen, Trinity of God (Yogyakarta: Andi Offset, 2011), 12-13
[6]Stephen Tong, Allah Tritunggal, (Surabaya: Momentum, 2010), 32-23
[7]Men_Supernova,Doktrin Allah Tritunggal, :Re: DoktrinTrinitas, akses tanggal 6 Mei 2013
[8]Robert  Letham, Allah Trinitas dalam Alkitab, Sejarah, Theologi dan Penyembahan (Surabaya: Momentum, 2011), 268
[9]Th Van den End, Institutio: Pengajaran Kristen (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2005), 37
[10]Ibid, 40
[11]Henri Veldhuis, Kutahu yang Kupercaya (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2010), 34
[12]Hans Kung dkk, Kapasitas Untuk berdialog dalam kapasitas iman yang tidak bertentangan; dalam Jalan dialog Hans Kung dan Perspektif Muslim (Yogyakarta: Mizan, 2000)36
[13]FransMagnisSuseno, PosmodanTantangandalampemulihanMartabatManusia, dalam Martin L.Sinaga (Ed), Agama-Agama MemasukiMileniumKetiga, (Jakarta: Grasindo, 2000) 217
[14]WismaPandia, Teologi Pluralisme Agama-Agama, Sekolah Tinggi Teologi Philadelpia, 8 Mei 2013, 64
[15]H.W.B. Sumakul, Postmodernitas (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2012), 102
[16]Tom Jabcos, Trinitas (Yogyakarta: Kanisius, 2005), 32-33.
[17] Viktor I Tanya, Spiritualitasdan Pembangunan di Indonesia (Jakarta: BPK GunungMulia, 1996), 123

Jumat, 26 Februari 2016

INJIL YOHANES



I.       Penulis
I.1. Ciri-Ciri Penulis
1. Ia mengetahui situasi Palestiona dengan baik, berarti ia pernah atau mungkin                                       penduduk Palestin, bahkan dapat dipastikan bahwa ia orang Yahudi.
2. Ia mengetahui bagaimana hubungan orang Yahudi dan orang Zamaria (4:9)
3. Ia mengetahui hari-haru raya orang Yahudi (7:2; 11:35)
4. Ia meguasai geografi Palestina {Galilea (1:44; 2:1), Samaria (4:5), Yerusalem                      (11:18)}
5. Ia mengaku sebagai saksi mata kehidupan Tuhan Yesus (1:14; 19:35)
6. Ia mengetahui secara rinci setiap kejadian yang terjadi yang dialami Tuhan                         Yesus dan murid-murid-Nya (4:6; 2:6; 12:3,5)
7. Ia menyebut diri sebagai murid yang paling dikasihi oleh Tuhan Yesus (13:23;                    21:20-24), tuhan Yesus sendiri dekat dengan dia, sehingga Ia menyerahkan                   ibunya kepadanya (19:26- 27)

I.2. Penulis memakai debutan orang ketiga (dia, ia) bagi Petrus, Filipus dan murid        lain, tetapi tidak pernah ditulis dengan jelas tentang Yohanes, hal ini mendukung            gagasan bahwa kitab ini ditulis oleh YOHANES>
I.3. Penulis Injil Yohanes dan penulis surat 1.2.3 Yoanes serta kitab Wahyu      hádala              orang yang sama.
I.4. Dengan demikian kitab ini ditulis oleh rasul Yohanes anak Zebedeus (Mati. 4:21) ibunya bernama Salome, saudara Maria ibu Yesus (Mat. 27:55-56) Ia tiggal di Kapernaum (Mat. 4:13) ia mendapat julukan anak guruh (Mrk. 3:17), saudara Yakobus.


II.    Waktu dan Tempat Penulisan
Kitab ini ditlus pada masa tua Yohanes, bahkan ditulis menjelang kematiannya (Yohanes meninggal kira-kira tahun 98-100 TM, bahkan ia masih hidup pada Kaisar Trayan  mula memerintah; Trayan berkuasa mulai tahun 98 TM). Jadi kitab ini diutlis kira-kira  tahun 95 TM pada masa tua Yohanes dan ia tingal di Efesus, hal ini berarti di tulis dari kota Efesus.

III. Alamat Surat
Ada dua kemungkinan alamat Injil Yohanes yaitu:L
1. Kemungkina penerima surat ini adalah orang non Yahudi, sebab   kitab ini menjelaskan secar rinci  peristiwa yang aa hubungan dengan orang Yahudi (hari raya orang Yahudi dan adat- istiadat dijelaska secara rinci). Jika kitab ni ditujukan kepada orang Yahudi, maka hal terseebut tidak perlu dijelaskansecara rinci (2:113; 6:4; 7:2; 11:55; 2:6; 4:9; 19:40).
2. Kemungkina penerima surat ini adalah orang Yahudi yang sudah lama diperantauan , yang sudah tidak kenal  hari-hari raya orang Yahudi bahkan adat adat-istiadat Yahudi. Jika benar maka mereka adalah orang  Yahudi yang menganut Heleenisme.
      (Kemungkinan besar penerima surat ini adalah jemaat penerima Surat Wahyu ”7 jemaat” dalam Kitab Wahyu)

IV. Maksud dan Tujuan Penulisan
Dalam paaasal 20:30-31 dengan  jelas tercatat maksud penulisan kitab ini, gar pembaca percaya bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah dan oleh imanlah hidup ang kekal diperoleh. Hal ini dikuatkan pasal 16 28, bahwa Yesus berasal dari Bapa da pasaal 1:1-12, setiap orang yang menerimanya akan beroleh hidup yang kekal.

V.    Inti Berita
Dalam rangka memperkenalkan Yesus seabagai Mesias, Anak Allaah yang mendatangkankeselamatan, penulis berusaha membuktikan  bahwa Yesus benar-benar Allah. Sehingga ada bebrapa hal yang ditekankan oleh penulis; antara lain:
1.      Tujuh saksi yang menyatakan bahwa Yesus adalah Mesias Anak Allah.
a.       Yophanes Pembaptis (1:34)
b.      Natanael (1:49)
c.       Petrus (6:69)
d.      Martha (11:27)
e.       Thomas (20:28)
f.       Yohanes ”penulis” (10:36)
g.      Yesus (10:36)
2.      Tujuh, mujizat yang membuktikan bahwa Yesus adalah Mesias Anak Allah
a.       Air menjadi anggur (2:1-11)
b.      Anak pegawai istana disembuhkan (4:46-54)
c.       Orang sakit di kolam Bethesdaa disembuhkan (5:1-47)
d.      Yesus memberi makan  5000 orang (6:1-14)
e.       Yesus berjalan di atas air (6:16-21)
f.       Orang buta disembuhkan (9;1-41)
g.      Lazarus dibengkitkan (11:1-57)
3.      Tujuh perkataan ”Aku” dari Tuhan Yesus sebagai kiasan  pekerjaan-Nya di dunia
a.       Akulah roti hidup (6:35, 48)
b.      Akulah terang dubnia (8:12)
c.       Aku ada sebelum Abraham ada (8:58)
d.      Akulah gembala yang baik (10:11)
e.       Akulah kebangkitan dan hidup (11:25)
f.       Akulah jalan kebenaran dan hidup (14:6)
g.      Akulah pokok anggur yang benar (15:1,5)
4.      Kata-kat yang banyak dipakai penulis dalam Injil Yohanes
a.       Dirman (1:1) hidup (1:4) terang (1:7) Anak Tunggal (1:18) Anak Domba           (1:29), Anak MAnusia (1:51) kata-kata tersebut merupakan gealr Tuhan       Yesus.
b.      “Akulah” ungkapan ini bermaksud menjelaskan bahwa YESUS datang ke        dunia bukan hanya untuk memberikan INRI; tetapi Dia sendirilah Injil itu        (4:26; 6:20;, 35, 41, 48, 51,: 8:12; 18:24, 25, 58; 10:7,9, 11,14; 11:25; 13:19;    14:6; 15:1, 5, 6,8).
c.       “Tanda-tanda” kata-kata ini dipakai untuk menunjukan bahwa Yesus mampu   melakukan mujizat oleh karena Dia sendiri adalah Allah (kata tanda   merupakan fungsi dari mujizat) (12:11,23; 4:48; 12:37; 20:30).
d.      “Percata” Madang-kadang kata percata disejajarkan dengan kata menerima      (1:12), minum (4:14) datang (6:35) makn (6:51) masuk (10:9). Kata ini      menunjukan pada reaksi para pembaca atau pendengar yang mau percaya       kepada Yesus.
e.       “Hidup” Kata ini menunjuk statu pemberian Allah lepada pembaca dan            pendengar  yang percata kepada Yesus akan beroleh hidup yang kekal            (3:3,15,16)
5.      Dalam 13-16 ada empat ajaran yang ditekankan oeleh Yesus
a.       Murid-murid wajib saling mengasihi (13:1-38; 15:9-17)
b.      Yesus akan pergi tetapi Dia pasti akan datang kembali ke dunia (14:1-14)
c.       Roh Kudus akan dikirim ke dunia, setelah Yesus pergi ke Surga ; Dia akan       bertindak sebagai penolong (14:15-31; 16)
d.      Murid-murid harus selalu siap disucikan setiap saat (15:1-8)
6.      Injil Yohanes melengkapi ketiga Injil terdahulu, sebab banyak yaang tidak tercatat dalam tiga Injil tersebut dicatat dalam Injil Yohanes.

VI. Garis Besar
Prolog tentang Logos (1:1-18)
VI.1. Memperkenalkan Kristus kepada Israel (1:19-51)
1.      Oleh Yohanes Pembaptis  (1:19:36)
2.      Kepada murid-muid pertama (1:37-51)

VI.2. Tanda-tanda dan ajaran Kristus kepada Israel dan penolakann-Nya (2:1-                   12:50)
1.      Pernyataan Kristus kepada Israel (2:1-11:46)
a.       Tanda pertaama ai rmenjadi anggur (2:1-12)
b.      Kesaksian pertama kepada orang Yahudi di Yerusalem (2:13- 25)
            Selang waktu: Hari Raya Paskah di yerusalem (2:23-25)
c.       Ajaran Pertama: kelahiran dan kehidupan baru ( (3:1-21)
            Selang waktu hubungan Yohanes pembaptis dengan Yesus (3:22- 4:3)
d.      Ajaran kedua: Air KEHIDUPAN ((4:4-42)
            Selang waktu: Yesus di Galilea (4:43-45)
e.       Tanda kedua: penyembuhan anak pegawai istana (4:46- 54)
            Hari Raay di Yerusalem (5:1)
f.       Tanda ketiga: Penyembuhan di KOLAM Bethesda (5:2-18)
g.      Ajaran ketiga: Keilahian Kristus( 5:19-47)
h.      Tanda keempat: Memberi makan 5000 orang (6:1-15)
i.        Tanda kelma: berjalan di atas air (6:16-21)
j.        Ajaran keempat: Roti hidup(6:@@_%9)
k.      Penyaringan murid-murid (6:60-71)
            Selang waktu: (7:1)
l.        Hari Raya Pndok Daun di Yerusalem ((7:2-36)
m.    Ajaran kelima : Roh yang memberi hidup (7:37-52)
            Wanita yan bersinah (7;53 - :8:11)
n.      Ajaran keenam: Terang Dunia (8:12-30)
o.      Perdebatan dengan orang Yahudi (8:31-58)
p.      Tanda keenam: Orang uta disenbuhkan (9:1-41)
q.      Ajaran ketujuh: Gembala yang baik (10:1-21)
            Hari Raya pentahbisan Bait Suci di Yerusalem (10:22-42)
r.        Tanda ketujuh: Kebangkitan Lazarus (11:1-46)
2.      Penolakan Kristus oleh Israel ( 11:47 – 12:50)
VI.3. Kristus dan Permulaan umat Perjanjian Baru (13:1-20:29)
1.      Perjanjian Terakhir ((13:1-14:31)
a.       Mencuci kaki murid-murid (13:1-38)
b.      Yesus adalah jalan menuju Surga (14:1-31)
2.      Ajaran tentang Pokok Anggur yang benar danmanfaat persekutuan dengan Kristus (15:1-16:33)
3.      Doa penyerahan bagi diri-Nya dan umat Perjanjian Baru (17:1-26)
4.      Hamba yang menderita (18:1-19:42)
a.       Yesus ditangkap (18:1-12)
b.      Yesus diadili dipengadilan Yahudi (18:13-27)
c.       Yesus diadili dipengadilan Romawi (18:28-19:16)
d.      Yesus disalib (19:17-37)
e.       Yesus dikuburkan (19:38-42)
5.      Yesus bangkit dari antara orang mati (20:1-29)
6.      Pernytaan tentang penulisan kitab ini (20:30-31)
Epilog (21:1-25)