Laman

Pelayanan Anak dan Pemuda

Selamat Datang, Syalom semoga tulisan ini Memberi inspirasi Bagi Pembaca.

Jumat, 26 Februari 2016

INJIL YOHANES



I.       Penulis
I.1. Ciri-Ciri Penulis
1. Ia mengetahui situasi Palestiona dengan baik, berarti ia pernah atau mungkin                                       penduduk Palestin, bahkan dapat dipastikan bahwa ia orang Yahudi.
2. Ia mengetahui bagaimana hubungan orang Yahudi dan orang Zamaria (4:9)
3. Ia mengetahui hari-haru raya orang Yahudi (7:2; 11:35)
4. Ia meguasai geografi Palestina {Galilea (1:44; 2:1), Samaria (4:5), Yerusalem                      (11:18)}
5. Ia mengaku sebagai saksi mata kehidupan Tuhan Yesus (1:14; 19:35)
6. Ia mengetahui secara rinci setiap kejadian yang terjadi yang dialami Tuhan                         Yesus dan murid-murid-Nya (4:6; 2:6; 12:3,5)
7. Ia menyebut diri sebagai murid yang paling dikasihi oleh Tuhan Yesus (13:23;                    21:20-24), tuhan Yesus sendiri dekat dengan dia, sehingga Ia menyerahkan                   ibunya kepadanya (19:26- 27)

I.2. Penulis memakai debutan orang ketiga (dia, ia) bagi Petrus, Filipus dan murid        lain, tetapi tidak pernah ditulis dengan jelas tentang Yohanes, hal ini mendukung            gagasan bahwa kitab ini ditulis oleh YOHANES>
I.3. Penulis Injil Yohanes dan penulis surat 1.2.3 Yoanes serta kitab Wahyu      hádala              orang yang sama.
I.4. Dengan demikian kitab ini ditulis oleh rasul Yohanes anak Zebedeus (Mati. 4:21) ibunya bernama Salome, saudara Maria ibu Yesus (Mat. 27:55-56) Ia tiggal di Kapernaum (Mat. 4:13) ia mendapat julukan anak guruh (Mrk. 3:17), saudara Yakobus.


II.    Waktu dan Tempat Penulisan
Kitab ini ditlus pada masa tua Yohanes, bahkan ditulis menjelang kematiannya (Yohanes meninggal kira-kira tahun 98-100 TM, bahkan ia masih hidup pada Kaisar Trayan  mula memerintah; Trayan berkuasa mulai tahun 98 TM). Jadi kitab ini diutlis kira-kira  tahun 95 TM pada masa tua Yohanes dan ia tingal di Efesus, hal ini berarti di tulis dari kota Efesus.

III. Alamat Surat
Ada dua kemungkinan alamat Injil Yohanes yaitu:L
1. Kemungkina penerima surat ini adalah orang non Yahudi, sebab   kitab ini menjelaskan secar rinci  peristiwa yang aa hubungan dengan orang Yahudi (hari raya orang Yahudi dan adat- istiadat dijelaska secara rinci). Jika kitab ni ditujukan kepada orang Yahudi, maka hal terseebut tidak perlu dijelaskansecara rinci (2:113; 6:4; 7:2; 11:55; 2:6; 4:9; 19:40).
2. Kemungkina penerima surat ini adalah orang Yahudi yang sudah lama diperantauan , yang sudah tidak kenal  hari-hari raya orang Yahudi bahkan adat adat-istiadat Yahudi. Jika benar maka mereka adalah orang  Yahudi yang menganut Heleenisme.
      (Kemungkinan besar penerima surat ini adalah jemaat penerima Surat Wahyu ”7 jemaat” dalam Kitab Wahyu)

IV. Maksud dan Tujuan Penulisan
Dalam paaasal 20:30-31 dengan  jelas tercatat maksud penulisan kitab ini, gar pembaca percaya bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah dan oleh imanlah hidup ang kekal diperoleh. Hal ini dikuatkan pasal 16 28, bahwa Yesus berasal dari Bapa da pasaal 1:1-12, setiap orang yang menerimanya akan beroleh hidup yang kekal.

V.    Inti Berita
Dalam rangka memperkenalkan Yesus seabagai Mesias, Anak Allaah yang mendatangkankeselamatan, penulis berusaha membuktikan  bahwa Yesus benar-benar Allah. Sehingga ada bebrapa hal yang ditekankan oleh penulis; antara lain:
1.      Tujuh saksi yang menyatakan bahwa Yesus adalah Mesias Anak Allah.
a.       Yophanes Pembaptis (1:34)
b.      Natanael (1:49)
c.       Petrus (6:69)
d.      Martha (11:27)
e.       Thomas (20:28)
f.       Yohanes ”penulis” (10:36)
g.      Yesus (10:36)
2.      Tujuh, mujizat yang membuktikan bahwa Yesus adalah Mesias Anak Allah
a.       Air menjadi anggur (2:1-11)
b.      Anak pegawai istana disembuhkan (4:46-54)
c.       Orang sakit di kolam Bethesdaa disembuhkan (5:1-47)
d.      Yesus memberi makan  5000 orang (6:1-14)
e.       Yesus berjalan di atas air (6:16-21)
f.       Orang buta disembuhkan (9;1-41)
g.      Lazarus dibengkitkan (11:1-57)
3.      Tujuh perkataan ”Aku” dari Tuhan Yesus sebagai kiasan  pekerjaan-Nya di dunia
a.       Akulah roti hidup (6:35, 48)
b.      Akulah terang dubnia (8:12)
c.       Aku ada sebelum Abraham ada (8:58)
d.      Akulah gembala yang baik (10:11)
e.       Akulah kebangkitan dan hidup (11:25)
f.       Akulah jalan kebenaran dan hidup (14:6)
g.      Akulah pokok anggur yang benar (15:1,5)
4.      Kata-kat yang banyak dipakai penulis dalam Injil Yohanes
a.       Dirman (1:1) hidup (1:4) terang (1:7) Anak Tunggal (1:18) Anak Domba           (1:29), Anak MAnusia (1:51) kata-kata tersebut merupakan gealr Tuhan       Yesus.
b.      “Akulah” ungkapan ini bermaksud menjelaskan bahwa YESUS datang ke        dunia bukan hanya untuk memberikan INRI; tetapi Dia sendirilah Injil itu        (4:26; 6:20;, 35, 41, 48, 51,: 8:12; 18:24, 25, 58; 10:7,9, 11,14; 11:25; 13:19;    14:6; 15:1, 5, 6,8).
c.       “Tanda-tanda” kata-kata ini dipakai untuk menunjukan bahwa Yesus mampu   melakukan mujizat oleh karena Dia sendiri adalah Allah (kata tanda   merupakan fungsi dari mujizat) (12:11,23; 4:48; 12:37; 20:30).
d.      “Percata” Madang-kadang kata percata disejajarkan dengan kata menerima      (1:12), minum (4:14) datang (6:35) makn (6:51) masuk (10:9). Kata ini      menunjukan pada reaksi para pembaca atau pendengar yang mau percaya       kepada Yesus.
e.       “Hidup” Kata ini menunjuk statu pemberian Allah lepada pembaca dan            pendengar  yang percata kepada Yesus akan beroleh hidup yang kekal            (3:3,15,16)
5.      Dalam 13-16 ada empat ajaran yang ditekankan oeleh Yesus
a.       Murid-murid wajib saling mengasihi (13:1-38; 15:9-17)
b.      Yesus akan pergi tetapi Dia pasti akan datang kembali ke dunia (14:1-14)
c.       Roh Kudus akan dikirim ke dunia, setelah Yesus pergi ke Surga ; Dia akan       bertindak sebagai penolong (14:15-31; 16)
d.      Murid-murid harus selalu siap disucikan setiap saat (15:1-8)
6.      Injil Yohanes melengkapi ketiga Injil terdahulu, sebab banyak yaang tidak tercatat dalam tiga Injil tersebut dicatat dalam Injil Yohanes.

VI. Garis Besar
Prolog tentang Logos (1:1-18)
VI.1. Memperkenalkan Kristus kepada Israel (1:19-51)
1.      Oleh Yohanes Pembaptis  (1:19:36)
2.      Kepada murid-muid pertama (1:37-51)

VI.2. Tanda-tanda dan ajaran Kristus kepada Israel dan penolakann-Nya (2:1-                   12:50)
1.      Pernyataan Kristus kepada Israel (2:1-11:46)
a.       Tanda pertaama ai rmenjadi anggur (2:1-12)
b.      Kesaksian pertama kepada orang Yahudi di Yerusalem (2:13- 25)
            Selang waktu: Hari Raya Paskah di yerusalem (2:23-25)
c.       Ajaran Pertama: kelahiran dan kehidupan baru ( (3:1-21)
            Selang waktu hubungan Yohanes pembaptis dengan Yesus (3:22- 4:3)
d.      Ajaran kedua: Air KEHIDUPAN ((4:4-42)
            Selang waktu: Yesus di Galilea (4:43-45)
e.       Tanda kedua: penyembuhan anak pegawai istana (4:46- 54)
            Hari Raay di Yerusalem (5:1)
f.       Tanda ketiga: Penyembuhan di KOLAM Bethesda (5:2-18)
g.      Ajaran ketiga: Keilahian Kristus( 5:19-47)
h.      Tanda keempat: Memberi makan 5000 orang (6:1-15)
i.        Tanda kelma: berjalan di atas air (6:16-21)
j.        Ajaran keempat: Roti hidup(6:@@_%9)
k.      Penyaringan murid-murid (6:60-71)
            Selang waktu: (7:1)
l.        Hari Raya Pndok Daun di Yerusalem ((7:2-36)
m.    Ajaran kelima : Roh yang memberi hidup (7:37-52)
            Wanita yan bersinah (7;53 - :8:11)
n.      Ajaran keenam: Terang Dunia (8:12-30)
o.      Perdebatan dengan orang Yahudi (8:31-58)
p.      Tanda keenam: Orang uta disenbuhkan (9:1-41)
q.      Ajaran ketujuh: Gembala yang baik (10:1-21)
            Hari Raya pentahbisan Bait Suci di Yerusalem (10:22-42)
r.        Tanda ketujuh: Kebangkitan Lazarus (11:1-46)
2.      Penolakan Kristus oleh Israel ( 11:47 – 12:50)
VI.3. Kristus dan Permulaan umat Perjanjian Baru (13:1-20:29)
1.      Perjanjian Terakhir ((13:1-14:31)
a.       Mencuci kaki murid-murid (13:1-38)
b.      Yesus adalah jalan menuju Surga (14:1-31)
2.      Ajaran tentang Pokok Anggur yang benar danmanfaat persekutuan dengan Kristus (15:1-16:33)
3.      Doa penyerahan bagi diri-Nya dan umat Perjanjian Baru (17:1-26)
4.      Hamba yang menderita (18:1-19:42)
a.       Yesus ditangkap (18:1-12)
b.      Yesus diadili dipengadilan Yahudi (18:13-27)
c.       Yesus diadili dipengadilan Romawi (18:28-19:16)
d.      Yesus disalib (19:17-37)
e.       Yesus dikuburkan (19:38-42)
5.      Yesus bangkit dari antara orang mati (20:1-29)
6.      Pernytaan tentang penulisan kitab ini (20:30-31)
Epilog (21:1-25)

Minggu, 21 Februari 2016

injil sinopsis



Revi V Killa Bulan
Kelas J
Semester IV/PAK




BAB 2
Dari manakah para penginjil menerima bahannya?
Sumber-sumber Injil-injil Sinoptis

Hubungan-hubungan antar-injil

Ketiga Injil Sinoptis (Matius, Markus, dan Lukas) memiliki kesejajaran dam
dalam garis besarnya, misalnya tentang kelahiran Yesus, pelayananNya, penderitaan, serta kematian dan kebangkitanNya. Meskipun tidak sama persis, namun intinya tetap sama, yaitu tentang Yesus.
Ketiga Injil ini memiliki bahan yang sejajar. Persamaan antar-Injil tidak hanya mengenai garis besar dan isi secara umum, namun ada jugapersamaan harafiah antara rumusan dari para penginjil, contohnya dalam sabda-sabda Yesus dalam Matius 17:4, Markus 9:5, dan Lukas 9:33. Rumusan kata-katanya memang berbeda, tapi intinya sama. Selain pesamaan, ada pula perbedaan dalam ketiga Injil. Misalnya, ada teks yang tidak terdapat di Markus namun terdapat di Matius dan Lukas. Contohnya teks di Matius 7:3-5 dan Lukas 6:41-42 tentang 'Hal menghakimi' namun tidak terdapat di Markus. Ada juga nats yang hanya terdapat di Matius, dan tidak terdapat di Markus dan Lukas, misalnya tentang perumpamaan lalang diantara gandum (Mat 13:24-30). Demikian juga dengan Injil Lukas, cerita tentang orang kaya dan Lazarus hanya terdapat di Injil Lukas.
Untuk menyikapi persamaan dan kesejajaran antara ketiga Injil Sinoptik ini maka para ahli melakukan penyelidikan sehingga muncul satu kesimpulan, yaitu:
·         Markus merupakan Injil tertua yang dipakai sebagai sumber oleh Matius dan Lukas. Alasannya adalah pertama, Matius dan Lukas menggunakan bahasa Yunani yang lebih halus atau lebih jelas daripada Markus. Kedua,

·         Ada beberapa cerita dalam Markus dan Matius yang mempunyai urutan yang sama yang berbeda dari urutan yang sama, tetapi berbeda dari Matius. Ketiga, Markus digunakan sebagai sumber oleh Matius dan Lukas.
Dalam ilmu PB sumber biasa ditandai dengan huruf Q atau yang disebut Markus. Bahan Q terdapat di dalam Kitab Matius dan Lukas. Sedangkan Lukas ditandai dengan huruf L, dam Matius ditandai dengan M.
Dengan demikian, dapat diambil kesimpulan bahwa:
a. Matius = bahan Markus +Q+M (dan bahan dari penginjil sendiri)
b. Matius yang terdiri dari 1600 ayat, memakai bahan sebagai berikut:
-47% berasal dari Markus.
-23% berasal dari Q.
-30% berasal dari M.
c. Lukas = bahan Markus +Q+L (dan bahan dari penginjil).
Lukas terdiri dari 1150 ayat, memakai bahan sebagai berikut:
-28% berasal dari Markus.
-21% berasal dari Q.
-51% berasal dari L.

BEBERAPA CATATAN MENGENAI INJIL MARKUS
Menurut tradisi, penulis Injil Markus adalah Yohanes Markus. Papias berkata bahwa Markus mengikuti Petrus sehingga kemungkinan Markus menulis apa yang dikatakan atau diajarkan Petrus.
Dimana Injil ini disusun?
Beberapa ahli mengatakan bahwa Injil ini disusun atau ditulis di kota Roma mengacu pada kata dua peser pada Markus 12:42. Peser merupakan mata uang Romawi. Pada umumnya orang-orang beranggapan bahwa Injil ini ditulis pada tahun 70 sesudah Kristus.

BEBERAPA CATATAN MENGENAI SUMBER Q
Bahan ini berisi sabda-sabda Yesus. Persamaan antara ketiga Injil Sinoptik tidak hanya dalam pokoknya saja, tapi juga dalam istilah-istilah dalam ketiga Injil.



Jumat, 30 Oktober 2015

Yudaisme dan Helenisme.



Yudaisme
Yudaisme memiliki pengertian dasar-dasar dalam janji Allah yang esa. Yudaisme muncul pada periode para rabi sampai kepada Ezra. Yudaisme berlainan dengan Israel yang menunjuk kepada dorongan religius yang berfokus pada janji berdasarkan wilayah geografis tanpa keberadaan lembaga nasional yang jelas.[1]
Definisi
Yudaisme adalah agama Yahudi yang bertentangan dengan agama PL. Penelitian menyeluruh mengenai pokok ini haruslah dimulai pada panggilan Abraham, namun praktisnya Yudaisme hares dianggap mulai pada Pembuangan di Babel. Tapi pada kurun waktu hingga thn 70 M istilah ini dipakai hanyalah untuk unsur-unsur baik yang berupa modifikasi maupun perluasan konsep-konsep PL. Dalam karya penulis-penulis Jerman berulang kali muncul ungkapan menyesatkan ‘Yudaisme yang kemudian’, yang dipakai untuk agama Yahudi pada zaman Tuhan Yesus. Ungkapan ini didasarkan pada teori yang mengatakan bahwa naskah P (mengenai imamat) dan sejarah dalam Heksateuk, berasal dari zaman Pembuangan atau sesudahnya, dan itulah yang dianggap benar awal Yudaisme.
Adalah lebih baik menganggap Yudaisme mencapai kedewasaannya sesudah keruntuhan Bait Suci thn 70 M, dan memakai istilah ‘Agama Antar Perjanjian’ untuk kurun waktu antara Ezra dan Tuhan Yesus, kecuali jika yang dibicarakan adalah gejala-gejala yang menyusul sesudah keruntuhan Bait Suci. Satu alasan utama untuk ini ialah, kendati agama Kristen paling awal tidak menolak atau tidak mengabaikan seluruh perkembangan sejarah dalam keempat abad pasca Ezra, tapi gereja perdana tegas menolak unsur itu dalam Yudaisme, yaitu sikapnya terhadap hukum Taurat dan penafsirannya, yang memisahkan Yudaisme dari agama Kristen dan PL.
Yudaisme mencapai puncak perkembangannya sekitar thn 500 M, agak bersamaan dengan agama Katolik. Kedua-duanya sejak saat itu terus bertumbuh dan berbenah diri. Namun artikel ini tidaklah membicarakan masa pasca thn 200 M, tatkala Misyna sudah lengkap dan konsep-konsep utama Yudaisme sudah jelas.
Timbulnya Yudaisme
Yudaisme tak terelakkan akibat reformasi raja Yosia, yang mencapai puncaknya thn 621 sM. Ketentuan bahwa korban yang sah hanyalah yang dipersembahkan di Bait Suci Yerusalem, mendampakkan arti bahwa hidup keagamaan banyak orang makin jauh dari tempat kudus dan sepi korban sembelihan. Kecenderungan demikian makin diperkuat oleh Pembuangan ke Babel. Penelitian modem mengisyaratkan bahwa pukulan akibat tertimpa hukuman dari Allah, adalah terlalu membingungkan bagi suatu ibadah resmi tanpa korban sembelihan, untuk dikembangkan di Pembuangan.
Masa Pembuangan adalah kurun waktu menantikan pemulihan. Dan penolakan untuk kembali ke Palestina pada thn 538 sM oleh mayoritas Yahudi, mengharuskan adanya perubahan dalam hidup keagamaan mereka, jika mereka ingin tetap hidup sebagai Yahudi. Tidak cukup hanya mengembangkan ibadah tanpa korban sembelihan (hal ini secara resmi dgn bentuk-bentuknya yang tertentu nampaknya timbul kemudian); pandangan baru atas hidup yang sama sekali dapat dipisahkan dari tempat kudus sangat dibutuhkan. Pandangan baru itu ditemukan dalam Taurat Musa. Ini tidak ketat diartikan sebagai peraturan undang-undang, tapi agak lebih sebagai seperangkat prinsip yang dapat dan harus diterapkan pada setiap segi kehidupan, dan yang mengikat semua orang yang ingin disebut Yahudi (Taurat lebih berarti ‘pengajaran’ daripada ‘hukum’). Sebenarnya Ezra adalah ‘Bapak Pencipta Yudaisme’, sebab ia kembali dari Babel bukan untuk memperkenalkan dan memberlakukan hukum yang baru, melainkan cara baru untuk memberlakukan hukum yang lama.
Pada abad-abad berikutnya kebijaksanaan Ezra ini menghadapi perlawanan keras dari imam-imam kaya dan yang lain-lain, yang pada pemerintahan Antiokhus Epifanes (175-163 sM) menjadi pemimpin golongan Helenis. Mayoritas masyarakat umum (’ am ha-’arets) berusaha menyingkirkan segala-galanya, kecuali arti yang jelas dari Taurat. Pada masyarakat yang berdiaspora di barat terjadi pembauran yang makin meningkat dengan pola pikir Yunani, yang dipertajam oleh tafsir Kitab Suci secara alegoris yang merajalela pada waktu itu.
Tingkat berikut dalam perkembangan Yudaisme ialah penghelenisasian para pemuka imam di Yerusalem dan kemerosotan moral para raja imam Hasmonean yang menyusul kemudian (khususnya Aleksander Yanneus). Beribadah di Bait Suci bagi orang saleh menjadi lebih merupakan kewajiban daripada sukacita. Sementara itu anggota Perjanjian Qumran kelihatannya membelakangi Bait Suci, sampai Allah sendiri akan membersihkannya dari imam-imam jahat, para Farisi yang mengagungkan sinagoge sebagai sarana utama untuk melakukan ibadah kepada Allah dan untuk mengenal kehendak-Nya melalui penyelidikan Taurat. Akibatnya, menjelang zaman Tuhan Yesus ada ratusan sinagoge di Yerusalem sendiri.
Walaupun kehancuran Bait Suci thn 70 M adalah pukulan berat bagi Farisi dan pengagum mereka, toh mereka sudah dipersiapkan untuk itu oleh beberapa kali Bait Suci dinodai dengan berbagai cara sejak zaman Antiokhus Epifanes. Hidup keagamaan mereka yang berpusat di sinagoge, dengan cepat dapat menyesuaikan diri pada keadaan yang baru itu, apalagi mengingat kelompok agama-agama lain sudah dimusnahkan atau dijadikan tak berdaya. Menjelang thn 90 M para pemimpin Farisi, yaitu para rabi, merasa cukup kuat untuk mengucilkan dari sinagoge orang-orang yang dianggapnya guru-guru bidat (minim), termasuk orang-orang Kristen Ibrani. Menjelang thn 200, sesudah bertempur mati-matian, mereka paksa ‘am ha-’arets supaya menyesuaikan diri dengan para rabi, jika mereka ingin dianggap Yahudi. Sejak saat itu dan seterusnya Yudaisme dipengaruhi oleh pemikiran modern. Istilah-istilah Yahudi dengan Yudaisme seperti rabi, Yudaisme ortodoks atau Yudaisme keturunan pada dasarnya adalah searti.
Perlu diperhatikan, kendati kelompok Farisi selalu merupakan kelompok kecil, keberjayaan pandangan mereka adalah wajar. Memang mereka sering tidak disenangi oleh masyarakat umum, tapi pandangan merekalah yang paling logis menyesuaikan PL pada keadaan sesudah Pembuangan. Dan pandangan mereka menjadi milik umum melalui kesanggupan mereka menggunakan sinagoge.


[1] Bruce Chilton, Studi Perjanjian Baru Bagi Pemula (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2012), 126-154