Laman

Pelayanan Anak dan Pemuda

Selamat Datang, Syalom semoga tulisan ini Memberi inspirasi Bagi Pembaca.

Minggu, 22 Februari 2015

misi dan kebudayaan



BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Di dalam penyebarannya, iman Kristen dan kekristenan tidak pernah hadir kecuali sebagai sesuatu yang diterjemahkan ke dalam suatu budaya Maksud Dan Tujuan.[1] Sejak dahulu, Allah berbicara kepada nenek moyang kita melalui nabi-nabi dengan memakai bermacam-macam cara yang dimengerti oleh umat-Nya (Ibr 1:1). Agaknya tidaklah berlebihan kalau dikatakan bahwa ide untuk masuknya suatu budaya ke dalam sebuah budaya yang dalam kekristenan lebih dikenal dengan kontekstualisasi, ini diinspirasikan oleh TUHAN sendiri. TUHAN dengan otoritas-Nya yang independen dan karakter relasional-Nya berulangkali menyatakan diri-Nya kepada manusia. Pada akhirnya dengan mandat budaya yang dimiliki manusia dan kreatifitas yang dimilikinya pada akhirnya mampu untuk memandang balik kepada Penciptanya.
Metode Kontekstualisasi ini ternyata ditangkap dan diteruskan oleh Paulus dalam ia menjalankan pekabaran Injil, dengan kontekstualisasi Etis dan kontekstualisasi pragmatisnya. Sampai pada masa gereja mula-mula, di mana kekristenan mengalami masa ‘perubahan bentuk’ dari dunia Yahudi – non Yahudi, kekristenan dilahirkan dalam bentuk sebuah lingkungan lintas-budaya dengan penerjemahan sebagai ciri kelahirannya.[2]


BAB II
KERANGKA TEORI
      A            KEBUDAYAAN
Menurut Tylor Kebudayaan adalah suatu keseluruhan kompleks yang meliputi pengatahuan, kepercayaan, seni, kesusilaan, hukum, adat-istiadat, serta kesanggupan dan kebiasaan lainnya yang di pelajari oleh manusia sebagai anggota masyarakat. Sedangkan menurut Linton kebudayaan adalah keseluruhan dari ppengatuhan sikap dan pola perilaku yang merupakan kebiasaan yang dimiliki dan diwariskan oleh anggota suatu masyarakat tertentu.[3]
Kluckhonn dan Kelly mengatakan bahwa kebudayaan adalah semua rangcangan hidup yang tercipta secara historis, baik yang ekplesit maupun implisit, rasional, irasional, dan nonrasional, yang ada pada suatu waktu sebagai pedoman yang potensial untuk perilaku manusia. Kroeber mengatakan bahwa kebudayaann adalah keseluruhan realisasi gerak, kebiasaan, tata cara, gagasan, dan nilai-nilai yang dipelajari dan diwariskan – dan perilaku yang ditimbulkannya.[4]
Menurut Dr. Th. Kobong, kebudayaan adalah pola hidup manusia dalam kelompok, jadi kebudayaaan itu dihayati dan diamalkan dalam hubungan dengan sesama anggota kelompok atau komunitas.[5]
       B            MISI KEBUDAYAAN
Menurut Pdt. I Nyoman Enos dalam Bukunya Penuntun Praktis Misologi Modern, mengatakan bahwa misi yang berlatar belakang budaya adalah misi yang bertujuan untuk menanamkan kebudayaan gereja atau tradisi gereja misionaris yang bersangkutan. Dalam hal itu budaya Baratlah yang dianggap lebih unggul. Berlatar belakang prasangka itu, para misioner tersebut menanamkan nilai-nilai budaya mereka ke dalam gereja setempat.[6]
F.D Scheleimacher percaya bahwa budaya Eropa lebih baik dari pada budaya pribumi. Oleh sebab itu, menurutnya, tugas misi adalah untuk menyampaikan dan menanamkan budaya Eropa. Padahal, identitas budaya lokal justru harus kita hormati dan kita jaga dalam terang injil.[7]
       C            TRANSFORMASI KEBUDAYAAN DALAM ALKITAB PL
Israel sebagai bangsa telah mengalami suatu formasi kebudayaan, yaitu kebudayaan bangsa pengembara ke kebudayaan bangsa yang menetap. Proses kempemilikan tanah Kanaan yang dijanjikan itu dan pembentuka Israel sebagai bangsa yang menetap di negeri Kanaan tidak lain hanya merupakan proses perubahan kebudayaan. Kita sudah mendefinisikan kebudayaan sebagai suatu pola hidup dari suatu kelompok/ masyarakat/ bangsa. Maka dalam PL ini kita akan menyoroti tiga bidang kehidupan yang dapat menjelaskan apa yang dimaksud dengan transformasi budaya.
Pertama : Transformasi pertanian, tidak sulit membayangkan perubahan-perubahan yang dialami bangsa Israel di pertanian sewaktu mereka beralih dari kebudayaan pengembara atau setengah pengembara yang mengandalkan peternakan sebagai sumber penghidupan. Kedua : Transformasi teknik dan sosial, dengan pemukiman yang menetap akibat kontak dengan bangsa-bangsa yang berada ditingkat kebudayaan yang jauh lebih tinggi, Israel belajar teknik pertanian antara lain cara mengerjakan tanah, mengolah hasil pertanian, transportasi dan perdagangan. Ketiga : Transormasi dibidang sosio-agama, tempat-tempat penyyembahan orang Kanaan ditransformasikan menjadi pusat-pusat ibadah untuk Yahwe. Suatu tumpukan/ susunan batu sebagai tempat pelaksanaan kultus/ ibadah, suatu mezbah yang sangat sederhana, dikembangkan menjadi tempat peribadahan bangsa Israel.

















BAB III
METODE DAN HASIL TEMUAN
A.    SASARAN MISI KEBUDAYAAN DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI
Dengan adanya transformasi misi kebudayaan dalam kehidupan sehari-hari maka diharapkan agar kebudayaan iinii membawa dampak yang positif bagi kehidupan sehari-hari. Menurut Dr.Th. Kobong dalam bukunya  Iman dan Kebudayaan, sasaran dari transformasi budaya sebagai berikut[8] :
1.      Agar Kita mendapatkan wawasan yanh jelas mengenai kebudayaan dulu dan agama-agama dan bagaimana menilai agama dan kebudayaan itu..
2.      Agar kita sadar bahwa kita tiidak memberitakan injil di luar kebudayaan, dengan demikian kita tidak bisa hidup di luar kebudayaan.
3.      Agar kita belajar menghargai kebudayaan secara kristis-positif.
4.      Agar Kita belajar mengembangkan suatu pola hidup dalam kebersamaan di tengah-tengah pola hidup yang lebih luas(Nisbah antara kebudayaan dan subkebudayaan).
5.      Agar usaha transformasi kebudayaan di jalankan sesuai dengan firman Allah.
6.      Agar Kita sadar bahwa firman Allah/ Injil menjadi kaidah pola hidup berbudaya.
7.      Agar kita mencoba menatap diri kita, cara hidup kita, pribadi maupun persekutuan untuk menyadari bahwa kitta masih jauh dari kehidupan kerajaan Allah, yang kita yakinii sudah kini dan akan disempurnakan nanti. Kita berada terus-menerus dalam proses transformasi.
8.      Agar kita secara sadar dan kristis meilahat perkembangan kebudayaan dan merasa bertanggung jawab untuk mengembangkan kebudayaan yang sesuai dengan injil Yesus Kristus.
B.     SIKAP GEREJA  MENYIKAPI KEBUDAYAAN
Menurut Malcom dalam bukunya, ia mengutip dari Niebur yang menguraikan 4 sikap gereja terhadap kebudayaan sebagai berikut:[9]
1.      Sikap Radikal : Kristus Menentang Kebudayaan
Sikap pertama ialah sikap radikal atau sikap ekslusif, yang menekankan pertentangan antara Kristus dan kebudayaan. Kristus dianggap berlawanan dengan masyarakat. Manusia harus memilih Kristus atau kebudayaan. Ia tidak dapat memilih Kristus dan kebudayaan. Ia tidak dapat mengapdi kepada dua tuan.
Dalam gereja-gereja Protestan sikap radikal mewarnai sekte-sekte dan peitime. Sekte-sekte merasa bahwa gereja-gereja biasanya cenderung berkompromi dengan dunia. Sekte mau menjauhkan diri dari kebudayaan. Ada sekte-sekte yang tidak berpatisipasi dalam poliitik atau kesenian masyarakat mereka. Dalam masalah sikap radikal juga disertai dengan empat maslah teologi. Masalah pertama : menyangkut hubungan antara pengatahuan dan penyataan, Kedua: menyangkut pengertian tentang dosa, Ketiga : menyangkut hubungan antara kepatuhan kepada hukum dan kasih karunia Allah, dan Keempat : menyangkut ecenderungan kaum radikal untuk membedakan antara dunia material yang berlawanan dengan Kristus dan dunia spiritual yang dibimbing oleh Allah.
2.      Sikap Akomodasi : Kristus Milik Kebudayaan
Sikap ini melihat keselarasan antara Kristus dengan kebudayaan. Yesus dianggap sebagai pahlawan sejarah dunia, kehidupan-Nya dan ajaran-ajaran-Nya merupakan prestasi manusia yang paling agung. Dalam Yesus cita-cita proses peradabaan diwyjudkan. Yesus menganggap harapan-harapan dan idaman-idaman masyarakat.
Sikap ini bertentangan sekali dengan sikap radikal. Penganut-penganut sikap ini menyesuaikan diri dengan kebudayaan mereka. Mereka mencintai Kristus, tetapi juga mencintai kebudayaan. Mereka tidak melihat ketgangan antara gereja dengan dunia, adat dengan injil, kasih karunia Tuhan dengan amal-amal manusia. Pada satu pihak orang-orang Kristen budaya ini melihat kebudayaan dalam terang Kristus.
3.      Sikap Perpaduan : Kristus Di atas Kebudayaan
Biasanya dalam usaha kita untuk menguraikan sesuatu, kita tergod untuk membedakan antara dua golongan saja : misalnya, yang rohani dan yang duniaawi, kaum horisantalis dan kaum vertikalis: gereja-gereja evengelikal ddan gereja-gereja ekumenis. Namun sudah kita memeriksa kedua sikap diatas, menjadi nampak bahwa kbanyakan gereja dan pandangan theologis merupakan campuran. Ada jenis theologia yang hitam dan yang putih, tetapi Kristus dan kebudayaan kelabu. Kebanyakan theolog mengakui suatu pertentangan antara kepada Kristus sebagai Tuhan dengan cinta kepada kebudayaan.
4.      Sikap Dualis : Kristus  dan kebudayaan dalam Paradoks
Sikap dualis ini bukan dualisme Manikhean yang membagikan dunia dalam kerajaan rohani yang diciptakann Tuhan dan kerajaan gelap yang diciptakan iblis. Orang-orang dualis mengakui kewajiban mereka untuk menaati Kristus dan kewajiban untuk mengembangkan kebudayaan sambil juga membedakan antara dua macam kewajiban.

BAB IV
ANALISA
Kebudayaan merupakan masalah yang tidak habis-habisnya. Itu adalah maslah iman yang dihayati dan diamalkan ditengah-tengah kebudayaan yang beraneka ragam. Masalah ini dapat kita telusuri dalam Alkitab. Kesetiaan dan ketaatan umat Allah diukur dari pola hidupnya, sampai mana umat Allah sebagai suatu persekutuan mempunyai pola hidup tersendiri dan dapat mengamalkan pola hidup itu.
Kebudayaan Kristen menampak diri sebagai tanda-tanda kerajaan Allah di tengah-tengah kebudayaan di mana orang Kristen hidup. Hanya kita harus waspada terhadap pengidentikan kebudayaan Kristen sebagai subkebudayaan dengan pola hidup yangg dikehendaki Allah, yaitu pola hidup kerajaan Allah. setiap kebudayaan, termasuk sub kebudayaan yang beroreintasi kepada Kristus harus ditransformasikan terus-menerus dari kebudayaan yang nyata ketingkat kebudayaan yang sesuai dengan kehendak Allah, yaitu kebudayaan kerajaan Allah . Kaidah kita ialah firman Allah.







BAB V
PENUTUP
A.    KESIMPULAN

B.     SARAN















DAFTAR PUSTAKA
Bosch, David J. Transformasi Misi Kristen, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2012
Brownlee, Malcom. Tugas-tugas Manusia dalam Dunia milik Tuhan Allah. Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2004.
Enos, Pdt. I. Nyoman. Penuntun Praktis Misiologi Modern. Bandung : Kalam Hidup, 2012
Keesing, Roger M. Antropologi Budaya- Jilid 1, Jakarta : Erlangga, 1981.
Kobong, Dr.Th. Iman dan Kebudayaan. Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2012



[1] David J. Bosch, Transformasi Misi Kristen, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, ), hal. 686.
[2] Ibid, 
[3] Roger M. Keesing, Antropologi Budaya- Jilid 1, (Jakarta : Erlangga, 1981), hal 68.
[4] Ibid.,
[5] Dr.Th. Kobong, Iman dan Kebudayaan, (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2012),  hal  V
[6] Pdt. I. Nyoman Enos, Penuntun Praktis Misiologi Modern ( Bandung : Kalam Hidup, 2012), hal 25.
[7] Ibid.,
[8] op, cit., Dr. Th. Kobong, hal 16-59
[9] Malcom Brownlee, Tugas-tugas Manusia dalam Dunia milik Tuhan Allah, (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2004), hal 181-198.
Nama      : Papi A. Muskanan
NIM        : 0120120183
Kelas       :F
Semester  : V
 

Kamis, 15 Januari 2015

Martin Heidegger dalam pemikiran Postmodernitas




            Pemikiran eksistensialisme dipengaruhi oleh White mengatakan bahwa sangat perlu untuk mengerti tinggi untuk memahami nazisme. Heidegger meletakkan dasar dekontruksi di mana penjelasan tentang sejarah ontologi dan dekontruksi konsep metafisika tradisional dan epistemologi. Heidegger menempatkan konsep dunia dalam suatu kerangka acuan kontekstual dan rasional. Ciri khas temporal verbal dari bahasa variabel dalam memahami dunia. Bahasa berhubungan dengan horizon. Horizon bukanlah objek yang diamati melainkan secara estetis merupakan proses horizontal kehidupan yang menekankan temporalitas dari apa yang dilihat. Onto teologi menjelaskan dialog tentang realitas hakikat yang benar yang diperhadapkan kepada akta dialog teks. Akta dialog dengan teks menghasilkan bukan yang dipersembahkan oleh teks kepada penafsir melainkan penafsir yang sejati. Objektivitas penafsiran dikedepankan melainkan subjektifitas penafsir. Ada beberapa pra kondisi yang ada dalam penafsiran teks. Pertama, apa yang dipersembahkan oleh teks pada kita dan mesti ditafsirkan. Kedua, apa yang diamati, ketiga apa yang dimengerti. Heidegger mengatakan bahwa bukanlah suatu tindakan identifikasi objektif melainkan suatu proses suatu peristiwa yang berkesinambungan. Ciri khas eksistensialisme yaitu proses untuk penilaian moral yang jatuh kepada relativisme.[1]


[1] H.W.B. Sumakul, Postmodernitas, Memaknai Masyarakat Plural Abad ke 21 (Jakarta BPK Gunung Mulia, 2012), 23