Laman

Pelayanan Anak dan Pemuda

Selamat Datang, Syalom semoga tulisan ini Memberi inspirasi Bagi Pembaca.

Minggu, 09 November 2014

CONTEMPORARY APPROACHES CHRISTIAN EDUCATION OLEH JACK SEYMOUR DAN DONALD E MILLER



Abingdon, library of Congress cataloging, in publication data, 1948,

Pendekatan pendidikan Kristen
            Gambaran dalam bab pendahuluan adalah lima langkah pendekatan kontemporer pendidik-pendidik kristen teori dan praktek pendidikan kristen instruksi agama, komunitas iman, pembangunan, pembebasan dan menerjemahkan. Di mana pendekatan tidak eksklusif dengan yang lain dan tidak menggambarkan semua pendidikan kristen dapat didefenisikan. Pendidikan kristen menggambarkan pokok ilustrasi dimengerti sebagai tugas yang sulit pada pendidikan kristen. Banyak pernyataan digambarkan dalam bab satu dan lebih baik mengerti perspektif melalui pendidikan kristen merupakan organisasi yang memberi kontribusi membentuk keadaan yang lebih komprehensif dan teori koheren dan praksis pendidikan kristen. pengharapan banyak mendorong dialog diantara pendidik kristen seperti kondisi yang akan mendatangkan disiplin.
            Sepuluh tahun terakhir harapan baru, dan kehilangan harapan pada awal 1970 dan dibuktikan dengan perhatian kepada pencarian pemilihan akan datang pada teori pendidikan kristen dan praktek. Teladan penuh harapan yang berlimpah dengan penelitiuan terhadap pendidikan tinggi yang ditunjukkan dalam pendidikan agama.
Penekanan pada sebuah pandangan eksklusif penerbitan pada materi pendidikan agama dan dasar pemeriksaan tahun penelitian. Pendidikan agama jurnal laporan penemuan emperis penelitian dalam pendidikan agama. Ditambahkan refleksi disiplin yang signifikan diatas dengan alternatif pendidikan kristen pada tempat masing-masing. Salah satu bentuk pendekatan pada pergumulan dengan pertanyaan pada disiplin pada bagian akademik pendidikan Kristen.
            Otoritas lain yakni konsep alternatif dengan memeriksa hubungan pendidikan kristen ke pendidikan publik, teologi kristen, studi agama dan institusi gereja. Konkritnya, melalui pendekatan yang didorong pada kualitas pembelajaran kristen dan hidup. Di mana penelitian sesekali ditengah harga sekolah tradisional melalui pendidikan gereja, juga pendekatan baru dengan menegaskan berbagai macam pengertian. Bagaimana komunitas iman dalam lingkup pendidikan kristen pembangunan spiritual adalah agenda pendidikan kristen, bagaimana inspirasi pendidikan kristen yang menyelediki keadaan politik dan keadilan sosial dan bagaimana tradisi kristen dapat diartikan dalam budaya masa kini dan konteks sosial.
            Pembangunan secara langsung terlihat dengan pendidikan kristen di tahun 1970. Khususnya dalam artikel Iris Cully seorang Profesor Presbiterian judulnya “”What Killed Religious Education”. Apakah yang digambarkan dengan artikel “melalui” pendidikan agama diilustrasikan melalui seminari dam posisidalam pendidikan. Kelompok ekumene dan menolak dengan menerbitkan pada pendidikan agama. Banyak yang merasa bahwa disiplin sebagai krisis yang serius dan melihat identitas pada wilayah inisiasi pada saat ini buah yang dicari pada yang terlihat. Bukan pada arti sebuah identitas telah dibangun tetapi usaha dalam mengikuti artikel dengan klarifikasi petunjuk yang berlaku dengan menempatkan pada bimbingan untuk penyelidikan.
            dalam pengetahuan manusia dapat dilihat bahwa pemberian setiap orang dalam pengalaman dan realitas kehidupan. Sebuah penelitan manusia yang membentuk model, paradigma dan mitos yang melayani dalam bingkai yang terbatas, organisasi dan melakukan penekanan. Pendeknya ada model yang dibangun dari kisah kehidupan pribadi dan pengertian terhadap realitas kebudayaan, dalam fokus dan bentuk asli, pengalaman dan respon individu.   
            Dan dasar penelitian yang menjadi jelas dalam penjelasan dan analisis bingkai interpretasi dan metafora yang menyatakan realitas struktur. Penelitian empiris, atau fakta kesimpulan penelitian yang terbatas pada konsep yang ada. Salah satu  identitas dalam disiplin akademik yang diselidiki dalam bingkai dan metafora yang praktis. Belajar yang termasuk teologi dan  pendidikan. David Tracy “blessed rage for order dan MacDonald” pendidikan ideologi pembangunan transenden. Dengan dua contoh metode analisis.

Minggu, 19 Oktober 2014

Misi



            Berbicara mengenai misi dalam konteks iman Kristen pada dasarnya bersumber pada pengajaran Alkitab yakni dalam konteks Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Sebab dengan memahami kedua bagian kitab itu maka konteks mendasar mengenai misi dapat kita pahami yakni yang berpusat pada Amanat Agung (sebagaimana yang diungkapkan dalam Matius 28).
Model – Model Misi Dalam Perjanjian Baru
  1. Refleksi Terhadap PB Sebagai Dokumen Misi
    1. Misi dalam Perjanjian Lama
Dalam PL dapat kita memahami keberadaan dan realitas dari apa yang dipahami mengenai misi. Mungkin tidak tersistematis bagaimana Allah menyatakan kehendakNya kepada manusia untuk bermisi namun tak dapat disangkal bahwa kehadiran para utusan atau yang diutus oleh Allah (misalnya; Yunus dalam perintah untuk memberitakan penghukuman dari Allah dan Deutero Yesaya yang memberitakan mengenai “kabar baik”) dapat dijadikan sebagai motivasi dalam menyatakan misi kepada bangsa-bangsa lain. Bahkan yang penting untuk dipahami bahwa Allah menyatakan kuasa kepada bangsa yang terpilih (Israel) untuk menjadi pengharapan bahwa Israel dapat mewujudkan misi itu kepada bangsa-bangsa lain. Namun kita tahu bahwa Israel pada akhirnya gagal sebab ketidaktaatan mereka pada apa yang menjadi aturan khusus dari Allah.
    1. Misi yang dilakukan oleh Yesus
Misi yang nyata dalam kehadiran pelayanan Yesus pada dasarnya berpusat pada Kerajaan Allah. Dimana dengan pelayanan itu Yesus hendak mengajak manusia agar percaya kepada Bapa yang mengutus Dia sebab dengan hal itulah manusia dapat diselamatkan sebab lewat penderitaan – kematian – kebangkitan Yesus merupakan wujud pengorbanan yang dapat menyelamatkan manusia dari dosa dikarenakan kemenangan Yesus mengalahkan kuasa kejahatan yang membelenggu kehidupan manusia.
    1. Hukum Taurat
Pemaknaan terhadap Hukum Taurat hanya dapat dipahami dalam pola pelayanan dan pengajaran Yesus, yakni dengan menyatakan bahwa Yesus bukannya menghilangkan makna Hukum Taurat itu namun Dia datang untuk menggenapi semuanya itu agar manusia dapat memahami apa yang hendak dilakukan kepada Allah dan apa yang hendak dilakukan kepada sesama manusia.
  1. Misi Sebagai Pemuridan
Ketika kita diperhadapkan pada realitas misi yang dapat dapat kita pahami maka hendaknya kita melihat tiga kitab penting dalam PB yakni Matius, Lukas – Kisah Para Rasul dan surat-surat Paulus. Memang tidak dapat disangkal bahwa bagian kitab ini masing-masing berbeda mengenai penulisnya, namun mempunyai kesamaan makna sehubungan dengan misi. Pertama bahwa kitab-kitab ini memperkenalkan kepada kita apa pemahaman misi, bagaimana menerapkannya dan apa yang hendak dicapai dari misi itu. Hanya satu yang menjadi penekanan bahwa misi itu berpusat pada perintah Yesus untuk menjadikan semua bangsa menjadi murid lewat pengajaran dan pengenalan akan kebenaran Firman Allah sehingga dengan demikian manusia dapat merasakan kehadiran misi dalam hidup mereka dan menyadari dalam hidupnya bahwa hal itu hendaknya diteruskan kepada mereka yang belum mengenal dan memahami misi itu, yakni keselamatan yang berpusat dalam kepercayaan yang utuh kepada Yesus Sang Mesias.
Paradigma Historis Misi
            Berbicara mengenai paradigma historis misi dalam perspektif misiologi tidak dapat disangkal bahwa hal ini banyak mengalami pergeseran. Hal pada dasarnya dipengaruhi oleh kedinamisan zaman seiring juga dengan kemajuan ilmu dan teknologi. Hal-hal ini banyak mengkaji keeksistensian alam semesta, yakni mengenai apa yang berhubungan dengan ciptaan dan yang mencipta. Pemahaman-pemahaman yang muncul dari setiap manusia pada zamannya mengakibatkan banyak argument-argument yang muncul untuk menentang misi itu. Namun, satu hal yang hendak kita pahami bahwa dalam upaya untuk menyatakan dan mewujudkan misi itu hendaknya kita melihat argument-argument itu sebagai sesuatu yang memotivasi kita untuk lebih memperkaya pengetahuan demi kemajuan misi yang membarui paradigma-paradigma yang dapat menghalangi kemajuan misi. Apa yang telah menjadi sejarah dalam paradigma misi hendaknya dilihat sebagai patokan untuk lebih memajukan upaya misi di dunia ini.
Menuju Suatu Misiologi Yang Relevan
            Mengarahkan misi ke dalam konteks yang relevan atau sesuai dengan kebutuhan dimana misi itu dinyatakan memanglah sangat sulit untuk diterapkan sebab kita diharapkan pada tantangan yang menjadi pergumulan bagi kita. Hal ini tidak dapat dibantah sebab konteks dimana misi itu dinyatakan pada dasarnya akan mendapatkan tantangan yang berbeda-beda.
            Hal di atas janganlah dilihat sebagai sesuatu yang membebani misi yang dijalankan namun hendaknya kita berupaya untuk melihat ke dalam konteks di mana misi itu dijalankan. Yang utama untuk dipahami bahwa misi yang kita jalankan, misalnya; yang nyata dalam konteks Kristen, adalah amanat agung yang hendak disampaikan kepada sesama kita agar misi penyelamatan yang telah dinyatakan oleh Yesus (pembebasan / penyelamatan) dapat diteruskan oleh kita yang memahami dan memaknai arti dari misi itu agar pengharapan dari manusia yakni keselamatan tidaklah dilihat lagi sebagai sesuatu yang sifatnya maya / tidak nyata melainkan sesuatu yang nyata dan akan dinikmati oleh manusia pada saat kedatangan Yesus Kristus yang kedua kalinya.

Selasa, 07 Oktober 2014

MISIOLOGI



Misi Allah (Misio Dei). Arie de Kuiper mengatakan dalam buku “Misiologia” bahwa:
         Misio Dei adalah keseluruhan pekerjaan Allah untuk menyelamatkan dunia: pemeliharaan Israel, pengutusan para nabi kepada Israel dan kepada bangsa-bangsa di sekitarnya, pengutusan Kristus kepada dunia, pengutusan rasul-rasul, pekabaran-pekabaran Injil kepada bangsa-bangsa.[1]
            Jadi dengan demikian dapatlah dimengerti bahwa berbicara tentang Misio Dei  berarti berbicara tentang keseluruhan misi di tengah-tengah dunia dan berbicara tentang misi di dunia berarti berbicara tentang pengutusan Israel dan berbicara tentang pengutusan Israel berarti berbicara tentang kedatangan Kristus dalam melaksanakan tugas-Nya dan berbicara tentang Kristus berarti berbicara tentang para Pekabar Injil “Gereja Tuhan di dunia”.
Karena hubungan/ keterkaitannya sangat erat maka dalam bahan ajar ini dipaparkan pemahan  dengan konsep keterkaitan satu sama lain sebagai satu kesatuan pemahaman yakni Misi berasal dari Allah (Misio Dei) dan dilaksanakan oleh Allah lewat bangsa Israel, para nabi, Tuhan Yesus Kristus dan Gereja Tuhan yang nota bene menjalankan pekabaran Injil. Karena itu, dalam bahan ajar ini akan dipaparkan tentang hal-hal yang disesuaikan dengan kebutuhan pemahaman tentang misi.
I.1. Etimologi Misi
Kata Misi yang dipakai di sini merujuk pada keseluruhan tugas/misi alkitabiah dari gereja Yesus Kristus. Mision merupakan istilah yang komprehensif, mencakup pelayanan gereja ke atas, ke dalam dan keluar. Gereja “diutus” seperti seseorang yang melakukan perjalanan rohani, seorang asing, seorang saksi, seorang nabi, dan seorang hamba, sebagai garam dan terang ke dalam dunia ini (Mat.5:13-16).
Allah mempunyai misi (Misio Dei) untuk memahami gereja sebagai agen misi secara etimologi dari bahasa :Latin “Misio” sama dengan “pengutusan”; Arie de Kuyper menulis :
          Bahasa Latin “Misio” = pengutusan. Inggris/Jerman/Prancis : “Mision”;Belanda”Misie” dipergunakan dalam gereja Roma Katolik, gereja Protestan pada umumnya memakai kata “Zending”. Dalam bahasa Inggris dalam bentuk Tunggal “Mision” berarti karya Allah (God’s Mision) atau tugas yang diberikan Tuhan kepada kita (Our Mision), sedangkan bentuk jamak menandakan kenyataan praktis atau pelaksanaan pekerjaan itu untuk Foreign Mision (Lembaga PI di luar negeri); Histori of mision (Sejarah PI).[2]
                 Maka dapatlah dimegerti bahwa pemilihan Israel, pengutusan para nabi, pengutusan Kristus ke dunia, pengutusan para rasul dan pekabaran Injil kepada bangsa-bangsa melalui gereja Tuhan dapatlah dikatakan sebagai “Misio Ecclesae” (Pengutusan gereja = pekerjaan misioner dari jemaat Kristen sepanjang sejarah dunia.”[3]
Jadi Misi adalah keseluruhan karya Allah atas dunia dalam pengutusanNya yang diwujudkan dalam Self revelation of God yaitu penyataan diri Allah dalam melaksanakan rencana Allah yang kekal. Misi tidak terlepas dari Allah, karena berkaitan dengan Misio Dei. Allah adalah Allah yang hidup, Allah yang bertujuan dan Allah yang terlibat dalam sejarah dunia, Allah yang ada sekarang di sini, Allah adalah Allah yang sekarang sedang mengerjakan rencana-Nya dan Dia adalah Allah yang tidak berdiam diri di tempat, Ia adalah Allah Misi.
Dalam hubungan Misiologi ini dapat membicarakan ‘Missio Ekklesia’ artinya pengutusangereja, pekerjaan yang dikerjakan oleh para misionaris dari jemaat Kristen sepanjang sejarah dunia. Atau selain itu ‘Missio Apostolorum’ pengutusan para Rasul dan ‘Missio Christi’pengutusan Kristus dalam arti :
a.       Kritus mengutus murid-muridNya.
b.      Kristus diutus oleh Allah (Yoh.20:21 “Sama seperti Bapa mengutus Aku,demikian juga sekarang Aku utus kamu”).
`           ‘Missio Dei’ artinya seluruh pekerjaan Allah untuk menyelamatkan dunia. Ini berarti Missio Dei adalah teosentris dan khristocentris bukan ekklesiocentris atau anthropocnetris.
a. Pemilihan Israel.
b. Pengutusan para nabi kepada Israel dan kepada bangsa-bangsa sekitarnya.
c. Pengutusan Kristus kepada dunia.
d. Pengutusan Rasul-rasul dan pekabar Injil kepada bangsa-bangsa.
Dengan kata lain Allah adalah Pengutus Agung. Dulu istilah Misiologi terutama dipakai oleh para ahli teologi Roma Katholik, tetapi akhirnya diterima oleh teolog-teolog Protestan. Istilah Misiologi merangkum Misiologi alkitabiah Misiologi alkitabiah, Misiologi sejarah, Misiologi sistimatik dan Misiologi praktis-metodis. Tidak dapat disangkali lagi bahwa ini merupakan satu pengertian yang baik.
Kata Misi yang dipakai di sini merujuk pada keseluruhan tugas/misi alkitabiah dari gereja Yesus Kristus. Mission merupakan istilah yang komprehensif, Kata Misi yang dipakai di sini merujuk pada keseluruhan tugas/misi alkitabiah dari gereja Yesus Kristus. Mission merupakan istilah yang komprehensif.
Jadi Misiologi adalah ilmu Pekabaran Injil yang mempunyai sangkut pautnya dengan semua ilmu teologia (Arie de Kuiper). Bertitik tolak dari ini, maka jelas bahwa misiologi mempunyai dasar adalah Alkitab (Keluaran 19:5-6). Teminologi misi dan gereja dalam bahan ajar ini selaras dengan pemahaman Widi Artanto berdasarkaan pemaparan David J. Bosch dalam Transformasi Misi Kristen:
“misi lebih luas dari penginjilan. Penginjilan adalah misi, tetapi misi tidak hanya penginjilan. Misis adalah tugas total dari Allah yang mngutus gereja demi keselamatan dunia. Gereja diututs kedalam dunia untuk mengasihi, melayani, mengajar, menyembuhkan dan membebaskan. Penginjilan tidak dapat disamakan dengan misi karena ia merupakan bagian integral dari misi sehingga tidak dapat diisolasi menjadi aktivitas yang terpisah”.[4]

I.2. Hakekat Misi
Menurut D. W. Ellis, hakekat misi itu mencakup 3 hal yaitu :
1.    Proklamasi
2.    Kesaksian
3.    Pelayanan[5]
Ketiga aspek ini merupakan penyataan Kristus bagi dunia yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain.
Hal yang hampir sama juga diungkapkan oleh Ch. Abineno, yaitu :
1.    Pemberitaan Firman
2.    Persekutuan
3.    Pelayanan.


I.3.  Lingkup Misiologi
1.      Teologi Misi
2.      Sejarah
3.      Ekklesiologi
4.      Apologia
5.      Metodik
6.      Sosiologi lintas budaya
7.      Etnologi, dsbnya.
Untuk melaksanakan tugas ini dibutuhkan : Homiletik, Hermeneutik, Komunikasi, Linguistik, Pengetahuan dalam bidang Politik dan Ekonomi. Misiologi memiliki hubungan yang erat dengan Theologi dan tidak boleh menjadi satu fakminor. Menurut Georges Peters Misiologi harus masuk dalam pusat Theologi tentang Allah.





                [1] Arie de Kuiper, Missiologia. (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996), 10.
                [2]  Ibid
                [3]  Ibid
[4] Widi Artanto, Menjadi Gereja Missioner. (Yogyakarta: Kanisius dan BPK Gunung Mulia, 1997)., 33
[5] D.W. Ellis. Metode Penginjilan. (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, .....).,......