Laman

Pelayanan Anak dan Pemuda

Selamat Datang, Syalom semoga tulisan ini Memberi inspirasi Bagi Pembaca.

Rabu, 13 Agustus 2014

Hanna Arendt: Bertolak dari pemikiran tentang korban



            Thingking can seize upon and get hold on everithing real event, object, its own thoughts, their realness is the only property that remains stubbornly beyond its reach. Yang dipikirkan sebagai objek tidak identik dengan objek yang nyata di luar subjek yang berpikir. Kekerasan tidak dapat memahami sebuah peristiwa kekerasan itu sendiri. Kekerasan lebih kepada sebuah perbuatan atau peristiwa yang tidak sama dengan defenisinya. Kekerasan merupakan substansi yang tidak mengarah ke sebuah objek yang statis tetapi mengarah ke sebuah peristiwa yang dinamis. Arendt melihat jurang antara konteks peneliti dna peristiwa kekerasan. Dinamika kekerasan melibatkan perasaan, pengalaman, kesakitan, ketakutan, dan keinginan. Faktor yang muncul tentang kekerasan adalah ketakutan, survival, sadisme, rasa aneh, dan lain-lain. Arendt mengatakan only the fearful imagination of those who have been aroused by ...reports. refleksi atas kekerasan perlu memperhatikan konteks kekerasan. Mengapa muncul dibawah kondisi seperti ini? Bagaimana konteks seperti ini menghadirkan kekerasan? Subjek yang menderita karena kekerasan dan membawa peristiwa itu kedalam dirinya mengalami kesulitan berpikir tentang kekerasan. Namun dapat memberikan kesaksian tentang kekerasan yang telaah terjadi. Refleksi terhadap kekerasan terjadi setelah peristiwa. Pada saat kekerasan tidak munkin ada refleksi. Pemisahan dibuat struktural dengan korban kekerawsan dihindarkan untuk memberikan refleksi atas apa yang telah terjadi dengannya. Kebanyakan korban kekerasan yang menulis tentang kisah kekerasan yang pernah dialaminya bukan menulis autobiografis melainkan teoritis. Menurut Arendt bagaimana kekerasan direfleksikan oleh para korban? Apa yang terjadi kalau para korbvan memberikan kerangka untuk memikirkan kekerasan?.[1]


[1] Lucien Van Liere, Memutus Rantai Kekerasan, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2010), 48-50

Jumat, 01 Agustus 2014

LANGKAH EKSEGESIS TIPE SASTRA



Langkah 1. Selidiki konteks sejarah secara umum
Siapakah penulisnya? Siapakah para penerimanya? Hubungan apa yang ada diantara mereka? Di mana para penerima tinggal? Apa situasi saat itu? Situasi sejarah apakah yang telah terjadi dalam tulisan ini? Apa maksud penulis? Apakah tema besar atau perhatian dokumen itu? Apakah garis besar argumentasi atau cerita argumentasi atau cerita yang terlihat jelas?
Langkah 2.Tugas berikut adalah membaca seluruh teks sekaligus. Memeriksa pengamatan melalui membandingkannya dengan buku-buku tambahan.
Langkah 3. Jadi akrab dengan paragraf/perikop.
Membuat terjemahan sementara. Membuat sebuah daftar sementara untuk kesulitan eksegesis. Membaca paragraf seluruh dalam beberapa terjemahan.
Langkah 4. Analisis susunan kalimat dan hubungan sintaksisnya. Membuat kalimat mengalir. Membuat kalimat gambar.
Langkah 5. Membangun teks.
Langkah 6. Analisis tata bahasa.
Langkah 7. Analisis kata yang penting.
Langkah 8. Selidiki latar belakang sejarah budaya.
Mengeksegesis Surat-surat
Langkah 9. Tentukan sifat formal dari surat.
Perbedaan dalam sifat
Aspek persuratan
Ciri-ciri retorika
Langkah 10. Memeriksa konteks sejarah dalam kekhususannya
Membaca secara detail
Pendengar
Kata-kata kunci
Gambaran ringkas
Langkash 11. Tentukan konteks sastra
Logika dan isi
Isi dan argumentasi
Mengeksegesis Kitab Injil
a.       Sifat dasar kitab-kitab injil
b.      Beberapa hipotesis
c.       Tugas eksegesis
Langkah 1. Tentukan sifat formal dari perikop atau ucapan
Mengenali tipe sastra umum
Mengenali bentuk khusus sastra
Langkah 2. Analisis perikop dalam sinopsis injil
Pemilahan
Penyaduran
Penyusunan
Pertimbangan kemungkinan latar kehidupan pelayanan Yesus
Langkah 3. Analisis dalam konteks naratif
Mengeksegesis Kisah Para Rasul
Langkah 1. Selidiki persoalan sejarah
Langkah 2. Menentukan konteks sastra
Mengeksegesis Kitab Wahyu
Langkah 1. Memahami sifat formal kitab wahyu
Menentukan sumber atau latar belakang dari imagenya
Menentukan penggunaan gambar itu sekarang
Memandang penglihatan secara menyeluruh
Langkah 2. Menentukan konteks sejarah
Langkah 3. Menentukan konteks sastra
Dalam mengeksegesis teks asli yang dilakukan adalah menganalisis susunan kalimat.

Jumat, 11 Juli 2014

Kemuliaan Khotbah Abad ke-20


            Abad ke 20 diawali dengan suasana optimis. Negara barat menantikan kestabilan, kemajuan ilmu pengetahuan, dan kekayaan; gereja dan pengkhotbah di hormati. Optimisme itu hancur oleh perang dunia I dan resesi ekonomi. Keyakinan pada keistimewaan dan kuasa pelayanan mimbar tetap bertahan. Karl Barth mengolah realisme baru tentang kemanusiaan dan iman baru kepada Allah yakin bahwa khotbah lebih penting daripada sebelumnya. Sebelum Perang dunia II, Hitler berkuasa namun pengkhotbah seperti Dietrich Bonhoeffer dan Martin Niemoller berani dalam berkhotbah dan melengkapi khotbahnya. Dalam penganiayaan Boenheffer menekankan pentingnya berkhotbah, demikian juga dengan Walter Luthi dari Swiss dalam pengakuan Helvetic bahwa pemberitaan firman Allah adalah firman Allah dan menetapkan dirinya untuk bekerja dari satu kitab ke kitab dari Alkitab dan mencari apa arti sabda suci untuk zaman Luthi berada. Luthi menuliskan bahwa khotbah merupakan suatu dari beberapa kemampuan di mana tidak ada seorang pun yang benar-benar menguasainya.
            Pada saat seorang berpikir bahwa ia memiliki kemampuan ini, khotbahnya menjadi seni dan kasih karunia mundur dengan sedih. Perang dunia II mempercepat sekularisasi namun tidak demikian dnegan khotbah. James S. Steward dari Skotlandia, menulis “saya memilih judul buku ini untuk menekankan satu fakta penting yaitu khotbah ada bukan untuk menyebarkan pandangan, pendapat atau prinsip tetapi untuk memproklamirkan perbuatan-perbuatan besar Allah. Konsep perjanjian baru tentang tugas pengkhotbah, akan selalu membuat khotbah mendapat posisi utama dan penting dalam inti ibadah Kristen. Di kemudian hari muridnya menulis Ia adalah seorang pekhotbah yang sangat alkitabiah. Stewart memiliki cara menjelaskan yang membuat sebuah perikop dalam Alkitab terdengar sangat sederhana. Saya tidak merasa bahwa ia adalah seorang penafsir Alkitab yang pintar atau memiliki keamampuan yang luar biasa. Begitu ia menyelesaikan sebuah teks maka selalu begitu jelas.. ia adalah orang yang baik dan apa yang dikatakannya harus saya terima sebagai firman Allah.
            Pada pertengahan abar ke -20 gelombang khotbah menyurut namun tetap terdengar seruan pembaruan. Ketetapan tentang pelayanan dan kehidupan pendeta” oleh second vatican council meminta : Tugas utama pendeta adalah memproklamirkan injil Allah kepada semua orang (mereka harus) berseru supaya semua orang menjadi percaya dan kudus.. khotbah hendaknya tidak menyampaikan firman Allah secara umum dan abstrak saja tetapi menerapkan kebenaran injil sesuai kehidupan nyata. Welsh mengatakan dalam preacing an preachers (khotbah dan pengkhotbah), menyatakan bahwa bagi saya pekerjaan berkhotbah adalah panggilan yang tertinggi, terbesar dan termulia yang dapat diterima semua orang... kebutuhan yang paling genting dalam gereja Kristen masa kini adalah khotbah yang benar ... tidak ada yang dapat menyamainya. Ini adalah pekerjaan terbesar di dunia paling menggetarkan, paling menggairahkan, memberi kepuasan paling besar dan paling indah. Khotbah memegang peranan yang sangat penting dalam tradisi Kristen.[1]



[1] Jhon Stott dan Greg Scharf, Tantangan dalam berkhotbah (Jakarta: YKBK, 2013), 164-167