Laman

Pelayanan Anak dan Pemuda

Selamat Datang, Syalom semoga tulisan ini Memberi inspirasi Bagi Pembaca.

Jumat, 30 Oktober 2015

Yudaisme dan Helenisme.



Yudaisme
Yudaisme memiliki pengertian dasar-dasar dalam janji Allah yang esa. Yudaisme muncul pada periode para rabi sampai kepada Ezra. Yudaisme berlainan dengan Israel yang menunjuk kepada dorongan religius yang berfokus pada janji berdasarkan wilayah geografis tanpa keberadaan lembaga nasional yang jelas.[1]
Definisi
Yudaisme adalah agama Yahudi yang bertentangan dengan agama PL. Penelitian menyeluruh mengenai pokok ini haruslah dimulai pada panggilan Abraham, namun praktisnya Yudaisme hares dianggap mulai pada Pembuangan di Babel. Tapi pada kurun waktu hingga thn 70 M istilah ini dipakai hanyalah untuk unsur-unsur baik yang berupa modifikasi maupun perluasan konsep-konsep PL. Dalam karya penulis-penulis Jerman berulang kali muncul ungkapan menyesatkan ‘Yudaisme yang kemudian’, yang dipakai untuk agama Yahudi pada zaman Tuhan Yesus. Ungkapan ini didasarkan pada teori yang mengatakan bahwa naskah P (mengenai imamat) dan sejarah dalam Heksateuk, berasal dari zaman Pembuangan atau sesudahnya, dan itulah yang dianggap benar awal Yudaisme.
Adalah lebih baik menganggap Yudaisme mencapai kedewasaannya sesudah keruntuhan Bait Suci thn 70 M, dan memakai istilah ‘Agama Antar Perjanjian’ untuk kurun waktu antara Ezra dan Tuhan Yesus, kecuali jika yang dibicarakan adalah gejala-gejala yang menyusul sesudah keruntuhan Bait Suci. Satu alasan utama untuk ini ialah, kendati agama Kristen paling awal tidak menolak atau tidak mengabaikan seluruh perkembangan sejarah dalam keempat abad pasca Ezra, tapi gereja perdana tegas menolak unsur itu dalam Yudaisme, yaitu sikapnya terhadap hukum Taurat dan penafsirannya, yang memisahkan Yudaisme dari agama Kristen dan PL.
Yudaisme mencapai puncak perkembangannya sekitar thn 500 M, agak bersamaan dengan agama Katolik. Kedua-duanya sejak saat itu terus bertumbuh dan berbenah diri. Namun artikel ini tidaklah membicarakan masa pasca thn 200 M, tatkala Misyna sudah lengkap dan konsep-konsep utama Yudaisme sudah jelas.
Timbulnya Yudaisme
Yudaisme tak terelakkan akibat reformasi raja Yosia, yang mencapai puncaknya thn 621 sM. Ketentuan bahwa korban yang sah hanyalah yang dipersembahkan di Bait Suci Yerusalem, mendampakkan arti bahwa hidup keagamaan banyak orang makin jauh dari tempat kudus dan sepi korban sembelihan. Kecenderungan demikian makin diperkuat oleh Pembuangan ke Babel. Penelitian modem mengisyaratkan bahwa pukulan akibat tertimpa hukuman dari Allah, adalah terlalu membingungkan bagi suatu ibadah resmi tanpa korban sembelihan, untuk dikembangkan di Pembuangan.
Masa Pembuangan adalah kurun waktu menantikan pemulihan. Dan penolakan untuk kembali ke Palestina pada thn 538 sM oleh mayoritas Yahudi, mengharuskan adanya perubahan dalam hidup keagamaan mereka, jika mereka ingin tetap hidup sebagai Yahudi. Tidak cukup hanya mengembangkan ibadah tanpa korban sembelihan (hal ini secara resmi dgn bentuk-bentuknya yang tertentu nampaknya timbul kemudian); pandangan baru atas hidup yang sama sekali dapat dipisahkan dari tempat kudus sangat dibutuhkan. Pandangan baru itu ditemukan dalam Taurat Musa. Ini tidak ketat diartikan sebagai peraturan undang-undang, tapi agak lebih sebagai seperangkat prinsip yang dapat dan harus diterapkan pada setiap segi kehidupan, dan yang mengikat semua orang yang ingin disebut Yahudi (Taurat lebih berarti ‘pengajaran’ daripada ‘hukum’). Sebenarnya Ezra adalah ‘Bapak Pencipta Yudaisme’, sebab ia kembali dari Babel bukan untuk memperkenalkan dan memberlakukan hukum yang baru, melainkan cara baru untuk memberlakukan hukum yang lama.
Pada abad-abad berikutnya kebijaksanaan Ezra ini menghadapi perlawanan keras dari imam-imam kaya dan yang lain-lain, yang pada pemerintahan Antiokhus Epifanes (175-163 sM) menjadi pemimpin golongan Helenis. Mayoritas masyarakat umum (’ am ha-’arets) berusaha menyingkirkan segala-galanya, kecuali arti yang jelas dari Taurat. Pada masyarakat yang berdiaspora di barat terjadi pembauran yang makin meningkat dengan pola pikir Yunani, yang dipertajam oleh tafsir Kitab Suci secara alegoris yang merajalela pada waktu itu.
Tingkat berikut dalam perkembangan Yudaisme ialah penghelenisasian para pemuka imam di Yerusalem dan kemerosotan moral para raja imam Hasmonean yang menyusul kemudian (khususnya Aleksander Yanneus). Beribadah di Bait Suci bagi orang saleh menjadi lebih merupakan kewajiban daripada sukacita. Sementara itu anggota Perjanjian Qumran kelihatannya membelakangi Bait Suci, sampai Allah sendiri akan membersihkannya dari imam-imam jahat, para Farisi yang mengagungkan sinagoge sebagai sarana utama untuk melakukan ibadah kepada Allah dan untuk mengenal kehendak-Nya melalui penyelidikan Taurat. Akibatnya, menjelang zaman Tuhan Yesus ada ratusan sinagoge di Yerusalem sendiri.
Walaupun kehancuran Bait Suci thn 70 M adalah pukulan berat bagi Farisi dan pengagum mereka, toh mereka sudah dipersiapkan untuk itu oleh beberapa kali Bait Suci dinodai dengan berbagai cara sejak zaman Antiokhus Epifanes. Hidup keagamaan mereka yang berpusat di sinagoge, dengan cepat dapat menyesuaikan diri pada keadaan yang baru itu, apalagi mengingat kelompok agama-agama lain sudah dimusnahkan atau dijadikan tak berdaya. Menjelang thn 90 M para pemimpin Farisi, yaitu para rabi, merasa cukup kuat untuk mengucilkan dari sinagoge orang-orang yang dianggapnya guru-guru bidat (minim), termasuk orang-orang Kristen Ibrani. Menjelang thn 200, sesudah bertempur mati-matian, mereka paksa ‘am ha-’arets supaya menyesuaikan diri dengan para rabi, jika mereka ingin dianggap Yahudi. Sejak saat itu dan seterusnya Yudaisme dipengaruhi oleh pemikiran modern. Istilah-istilah Yahudi dengan Yudaisme seperti rabi, Yudaisme ortodoks atau Yudaisme keturunan pada dasarnya adalah searti.
Perlu diperhatikan, kendati kelompok Farisi selalu merupakan kelompok kecil, keberjayaan pandangan mereka adalah wajar. Memang mereka sering tidak disenangi oleh masyarakat umum, tapi pandangan merekalah yang paling logis menyesuaikan PL pada keadaan sesudah Pembuangan. Dan pandangan mereka menjadi milik umum melalui kesanggupan mereka menggunakan sinagoge.


[1] Bruce Chilton, Studi Perjanjian Baru Bagi Pemula (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2012), 126-154

Rabu, 28 Oktober 2015

latar belakang dunia politik perjanjian baru


  1. Latar belakang politik, sosial dan ekonomi dunia perjanjian baru

  1. Latar belakang politik dunia Perjanjian Baru
    Pengetahuan PB adalah ilmu yang menyelidiki dan mempelajari latar belakang sejarah
    dan budaya sekitar jaman Perjanjian Baru, yaitu jaman ketika Tuhan Yesus dan rasul-rasul masih hidup. Secara khusus akan dipelajari pula latar belakang penulisan kitab-kitab Perjanjian Baru, yaitu tentang penulis, penerima, tahun dan tempat penulisan, dan hal-hal yang penting sehubungan dengan tema dan tujuan penulis menuliskan kitab-kitab PB.
    Tujuan
    Tujuan mempelajari Ilmu Pengetahuan  adalah untuk mendapatkan informasi tentang latar belakang dunia PB dan penulisan kitab-kitab PB sehingga dapat memperkaya wawasan kita dalam memberikan interpretasi (penafsiran) yang tepat terhadap isi dan pengertian Firman Tuhan yang diinspirasikan dalam kitab-kitab PB.
    a. Masa Peralihan: Masa Sesudah PL dan Sebelum PB
    Masa-masa sesudah PL dan sebelum PB sering dikatakan sebagai masa-masa gelap karena Allah tidak mengirim nabi-nabi-Nya untuk berbicara kepada umat Israel. Namun demikian masa ini justru menjadi masa yang sangat penting karena sekalipun kelihatan-nya diam Allah bekerja dibalik sejarah umat manusia untuk mempersiapkan mereka menerima pelaksanaan rencana Agung-Nya.
    Masa "sesudah PL dan sebelum PB" ini disebut sebagai Masa Peralihan atau Jaman Intertestamental yang berlangsung kurang lebih 400 tahun. Dalam masa ini Allah memakai 3 bangsa yang mengambil peranan utama dalam mempersiapkan masa Perjanjian Baru. Dari catatan kitab-kitab Makabe dan tulisan-tulisan Yosefus, kita mengetahui fakta-fakta berikut ini:
    1. Bangsa Yahudi/Ibrani
    Bangsa pilihan Allah ini tidak selalu berhasil dalam mentaati dan mengemban tugasnya sebagai umat pilihan Allah, sehingga Allah sering harus menghukum mereka dengan membuang mereka menjadi tawanan bangsa-bangsa lain. Namun justru dengan cara itu Allah menggunakannya untuk maksud baik-Nya. Pada waktu bangsa Israel dibuang ke tanah Babilonia, mereka tercerai berai ke seluruh dunia. Ketika bangsa ini hidup di tengah-tengah bangsa kafir yang tidak mengenal Tuhan, bangsa Israel disadarkan akan pentingnya mempertahankan iman, menyembah Allah yang monotheisme dan mentaati Hukum Taurat. Melalui bangsa inilah Allah menyediakan jalan yang sangat baik untuk melihara kelangsungan sejarah keselamatan yang dijanjikan-Nya bagi umat manusia.

    2. Bangsa Yunani
    Bangsa Yunani melalui Aleksander memberikan sumbangan yang besar dalam mempersatukan seluruh dunia dalam satu bahasa, yaitu bahasa Yunani. Hal ini memberikan pengaruh yang besar, karena bahasa Yunani akhirnya dipakai menjadi bahasa internasional pada masa itu. Ini memberikan keuntungan yang sangat besar karena bahasa Yunani adalah bahasa berpikir, bahasa yang sangat dibutuhkan oleh penulis-penulis kitab-kitab PB dalam mengungkapkan istilah-istilah teologia dengan benar dan akurat.
    3. Bangsa Romawi
    Penguasa Romawi yang menduduki tanah Israel (Palestina) menciptakan suasana yang relatif damai sehingga pembangunan jalan-jalan dan keamanan menjadi prioritas negara. Keadaan ini sangat diperlukan dalam mempersiapkan kedatangan Kristus dan juga ketika Injil disebarkan. Selain itu ada banyak kontribusi yang diberikan oleh orang-orang Romawi, baik dalam bidang hukum maupun filsafat yang sangat berguna bagi persiapan penulisan kitab-kitab PB.
    b. Masa Pemerintahan Romawi
    Latar belakang politik dalam dunia Perjanjian Baru adalah kekaisaran Romawi. Merrill C. Tenney dalam bukunya Survei Perjanjian Baru telah memberikan uraian terperinci tentang hal ini. Negara Romawi berdiri tahun 753 SM, yang sebelumnya hanya terdiri dari beberapa kelompok masyarakat di beberapa desa yang akhirnya merebut banyak kota dan menjadi kerajaan yang besar tahun 265 SM.
    Berikut ini adalah kaisar-kaisar Romawi yang memerintah pada masa
    Perjanjian Baru:
    a. Agustus (27 sM - 14 M). Ketika Tuhan Yesus lahir, pemerintahan  sedang dipegang oleh Kaisar Agustus. Dialah yang memerintahkan sensus penduduk di Palestina.
    b. Tiberius (14-37 M). Ia memerintah semasa Tuhan Yesus dewasa - mati.
    c. Caligula (37-41 M). Kaisar yang menganggap dirinya dewa untuk disembah. Banyak orang Kristen mula-mula yang mati karena melawan perintah untuk menyembah kepada kaisar.
    d. Nero (54-68 M). Kaisar yang kejam dan semena-mena menganiaya orang Kristen. Paulus dan Petrus mati syahid pada masa pemerintahannya.
    e. Vespasian (69-79 M). Pada masa pemerintahannya kota Yerusalem dihancurkan, termasuk bangunan Bait Allah.
    f. Domitianus (81-96 M). Melakukan penindasan yang sangat kejam terhadap orang-orang Kristen. Memerintah pada masa tua Rasul
       Yohanes.
    Palestina menjadi salah satu negara jajahan Kerajaan Romawi diperkirakan sejak tahun 63 sM. Kisah dalam PB diawali dari masa pemerintahan Herodes (37sM - 4M) yang ditunjuk oleh pemerintah Romawi sebagai raja Yahudi. Sebutan provinsi diberikan kepada daerah-daerah baru yang ditaklukkan Romawi. Untuk provinsi yang relatif damai dan setia pada Roma, pemerintahan dipimpin oleh seorang gubernur. Sedangkan wilayah yang rawan dipimpin oleh seorang wali negeri. [Lihat: Kis. 13:7; 18:12; Mat. 27:11).
    Daerah-daerah jajahan (provinsi) ini biasanya mendapat kebebasan (otonomi) untuk berdiri sendiri. Kebebasan agama pun juga diberikan kepada mereka (religio licita). Penarikan pajak juga diserahkan kepada pemerintahan setempat, tetapi di bawah pengawasan Roma.

Selasa, 22 September 2015

Pengetahuan Perjanjian Baru



Kronologi Perjanjian Baru
            Dalam Lukas 3:1, Yohanes Pembaptis bersaksi tahun kelima belas pemerintahan Kaisar Tiberius. Kaisar Tiberius memerintah tahun 14-37. Yohanes tahun 29 dan Yesus kira-kira tahun 30.
Keadaan Politik
Masa Peralihan: Masa Sesudah PL dan Sebelum PB
Masa-masa sesudah PL dan sebelum PB sering dikatakan sebagai masa-masa gelap karena Allah tidak mengirim nabi-nabi-Nya untuk berbicara kepada umat Israel. Namun demikian masa ini justru menjadi masa yang sangat penting karena sekalipun kelihatan-nya diam Allah bekerja dibalik sejarah umat manusia untuk mempersiapkan mereka menerima pelaksanaan rencana Agung-Nya.
            Masa "sesudah PL dan sebelum PB" ini disebut sebagai Masa Peralihan atau Jaman Intertestamental yang berlangsung kurang lebih 400 tahun. Dalam masa ini Allah memakai 3 bangsa yang mengambil peranan utama dalam mempersiapkan masa Perjanjian Baru. Dari catatan kitab-kitab Makabe dan tulisan-tulisan Yosefus, kita mengetahui fakta-fakta berikut ini:
Bangsa Yahudi/Ibrani
Bangsa pilihan Allah ini tidak selalu berhasil dalam mentaati dan mengemban tugasnya sebagai umat pilihan Allah, sehingga Allah sering harus menghukum mereka dengan membuang mereka menjadi tawanan bangsa-bangsa lain. Namun justru dengan cara itu Allah menggunakannya untuk maksud baik-Nya. Pada waktu bangsa Israel dibuang ke tanah Babilonia, mereka tercerai berai ke seluruh dunia. Ketika bangsa ini hidup di tengah-tengah bangsa kafir yang tidak mengenal Tuhan, bangsa Israel disadarkan akan pentingnya mempertahankan iman, menyembah Allah yang monotheisme dan mentaati Hukum Taurat. Melalui bangsa inilah Allah menyediakan jalan yang sangat baik untuk melihara kelangsungan sejarah keselamatan yang dijanjikan-Nya bagi umat manusia.
Bangsa Yunani
Bangsa Yunani melalui Aleksander memberikan sumbangan yang besar dalam mempersatukan seluruh dunia dalam satu bahasa, yaitu bahasa Yunani. Hal ini memberikan pengaruh yang besar, karena bahasa Yunani akhirnya dipakai menjadi bahasa internasional pada masa itu. Ini memberikan keuntungan yang sangat besar karena bahasa Yunani adalah bahasa berpikir, bahasa yang sangat dibutuhkan oleh penulis-penulis kitab-kitab PB dalam mengungkapkan istilah-istilah teologia dengan benar dan akurat.
Bangsa Romawi
Penguasa Romawi yang menduduki tanah Israel (Palestina) menciptakan suasana yang relatif damai sehingga pembangunan jalan-jalan dan keamanan menjadi prioritas negara. Keadaan ini sangat diperlukan dalam mempersiapkan kedatangan Kristus dan juga ketika Injil disebarkan. Selain itu ada banyak kontribusi yang diberikan oleh orang-orang Romawi, baik dalam bidang hukum maupun filsafat yang sangat berguna bagi persiapan penulisan kitab-kitab PB.
Alexander Agung
Tahun 336 SM, Axander Agung mewarisi kerajaan Makedoania umur 20 tahun, setelaah ayahnya Filip II di bunuh. Ia melakukan infasi ke arah timur yaitu persia dan menaklukkan raja persia, Darius III di Issus pada tahun 333 SM. Pada tahun 332 SM, ia melakukan infasi ke Mesir bagian selatan. Alexander menaklukkan Mesir tanpa perlawanan. Para imam di kuil Amon mengakuinya sebagai anak ilah Amon. Ia kemudian mendirikan kota di Mesir di beri nama Alexandria, kota yang kemudian menjadi tempat perjumpaan para penulis, artis dan ilmuwan.
Alexander meninggalkan Mesir pada musim semi tahun 331 SM dan pada bulan september tahun 331 SM ia menyeberangi sungai Efrat dan tigris di Guatemala. Ia bertemu tentara raja Darius III. Dalam pertempuran ini Darius III melarikan diri. Alexander memperluas infasinya dari Persia ke Iran. Alexander Meninggal pada tahun 332 SM.[1]


[1] Samuel B. Hakh, Perjanjian Baru: Sejarah, Pengantar dan Pokok-Pokok Teologisnya (Bandung: Bina Media Informasi, 2010), 9-10.