Laman

Pelayanan Anak dan Pemuda

Selamat Datang, Syalom semoga tulisan ini Memberi inspirasi Bagi Pembaca.

Jumat, 10 Februari 2012

suku mandar


A.    Tempat Suku
Suku Mandar adalah kelompok etnik di Nusantara, tersebar di Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur. Wilayah Mandar terbagi dalam tiga daerah Tingkat II (Kabupaten) yaitu Kabupaten: Majene, Mamuju dan Polewali-Mamasa. Kota Mandar secara geografis tidak sebatas dengan wilayah keresidenan (Kabupaten) Polewali atau Majene, Luas wilayah yang diperjuangkan menjadi Provinsi Sulawesi Barat (Provinsi Sulbar). Dengan kata lain, dalam konteks geografis dan bukan konteks kultural, istilah Mandar mencakup seluruh wilayah sulbar. Mandar mencakup masyarakat Polewali, Majene, dan Mamuju. Wilayah Mandar terletak di ujung utara Sulawesi Selatan.
B.     Agama Suku
Agama suku Mandar adalah agama Islam. Tak seorang pun boleh mengajak orang lain berpindah agama.
C.    Kebudayaan Suku
Kebudayaan Suku Mandar adalah Mandar dan Bugis. Bahasa Mandar dengan 4 dialek, yaitu : Balanipa, Majene, Pamboang dan Awok Sumakengu. Daerah Polewali menggunakan bahasa Bugis. Daerah mamasa menggunakan bahasa Mamasa. Selain daerah Mandar atau kini wilayah Provinsi Sulawesi Barat, bahasa Mandar juga dapat ditemukan penggunaannya di komunitas masyarakat di daerah Ujung Lero Kabupaten Pinrang dan daerah Tuppa Biring
 Rumah adat suku Mandar di sebut boyang. Upacara adat suku Mandar di Kecamatan Pulau Laut Selatan, Kabupaten baru yaitu "mappando'esasi" (bermandikan air laut). Kebudayaan mandar banyak dipengaruhi oleh tradisi islam. Saeyang Patuqduq yang dirangkaikan dengan adat lain. Lagu-lagu Mandar sering dan selincah lagu-lagu Maluku, namun sekaligus selembut irama agraris lagu-lagu Bugis meski tidak sedinamis lagu-lagu Makassar yang terkesan agak cepat dan kekurangan kelembutan. Tari Patadu menampakkan suasana langit-bumi yang menyatu dalam gerak kaki para penari yang tak terlepas dari bumi, dan pada saat yang sama pasangan tangan mereka menari-nari bukan tanpa kebebasan, namun kebebasan dengan kendali nilai budaya oleh gerakan yang menandakan adanya aturan yang harus ditaati.
Salah satu warisan kebudayaan bahari Mandar adalah lopi sandeq. Bentuknya yang mungil menjadikan perahu ini lincah di samudera. Lopi sandeq terdiri dari anasir perahu, antara lain tambera, sobal, guling, pallayarang, palatto, tadiq, petaq dan sebagainya. Oleh nelayan, perahu ini kerap digunakan sebagai alat transportasi antar pulau, mencari ikan atau motangnga (berburu telur ikan terbang). Bahkan untuk memeriahkan perayaan Hari Kemerdekaan RI, setiap tahun diadakan Sandeq Race yang diikuti berbagai kalangan di Sulawesi hingga mancanegara. Tak terhitung jumlah peneliti yang tertarik dan telah melakukan riset tentang sandeq dan tradisi bahari Mandar.
D.    Jumlah Orang di dalam Suku
Kawasan dengan jumlah penduduk yang signifikan Sulawesi Barat 565.225. sulawesi selatan: 489.986.Kalimantan Selatan: 49.322. Kalimantan Timur: 33.000.dan Indonesia. Kurang lebih 1 juta di Indonesia (2010). Menurut situs Joshua Project suku Mandar berjumlah 253.000 jiwa.
E.     Hal Yang menarik
Orang Mandar  terkenal sebagai suku-bangsa pelaut di Indonesia yang telah mengembangkan suatu kebudayaan maritim sejak beberapa abad lamanya. Perahu-perahu layar mereka telah mengarungi perairan Nusantara dan lebih jauh dari itu telah berlayar sampai ke Srilangka dan Filipina untuk berdagang.Bakat berlayar yang rupa-rupanya telah ada pada orang Mandar,  akibat kebudayaan maritim dari abad-abad yang telah lampau itu.
Warga suku Mandar Polewali Mandar, Sulawesi Barat, masih memegang teguh tradisi gotong royong dan saling tolong menolong. Melalui tradisi Kalulu atau Sikalulu, warga Kampung Pajjala, Kelurahan Takatidung, Polewali Mandar, memperlihatkan rona kebersamaannya. semangat sikalulu, rumah berbobot puluhan ton akan dipindahkan. Lagi-lagi, tanpa perlu peralatan modern. Tradisi Kalulu atau Sikalulu tak hanya meringankan pekerjaan yang mustahil dilakukan sendiri.
Sistem kekerabatan orang Mandar ditandai oleh beberapa periode, antara lain : periode Tomakala, ketika pemerintahan belum teratur dan hukum belum ada; periode transisi (Pappuangang), ketika hubungan sosial dalam masyrakat mulai menampakkan polanya: periode penuh tata cara, aturan, nilai yaitu periode Arajang.
Untuk meramaikan upacara adat ini, biasanya disuguhkan hiburan berupa kesenian hadrah, musik tradisional, dan atraksi pencak silat. Usai pelepasan bagang, ditampilkan atraksi meniti di atas tali yang biasa dilakukan oleh lelaki Suku Bajau. Atraksi ini pun selalu dipertunjukkan bahkan dipertandingkan pada saat Upacara Adat Salamatan Leut (Pesta Laut) sebagai pelengkap hiburan masyarakat.
Selain Upacara Adat Macceratasi, Kabupaten Kota Baru juga mempunyai upacara adat lainnya, seperti Upacara Adat Babalian Tandik, yakni kegiatan ritual yang dilakukan oleh Suku Dayak selama seminggu. Puncak acara dilakukan di depan mulut Goa dengan sesembahan pemotongan hewan qurban. Upacara ini diakhiri dengan Upacara Badudus atau penyiraman Air Dudus. Biasanya yang didudus (disiram) seluruh pengunjung yang hadir sehingga mereka basah semua.
Ada pula Upacara Adat Mallasuang Manu, yakni upacara melepas sepasang ayam untuk diperebutkan kepada masyarakat sebagai rasa syukur atas melimpahnya hasil laut di Kecamatan Pulau Laut Selatan. Upacara ini dilakukan Suku Mandar yang mendominasi kecamatan tersebut, setahun sekali tepatnya pada bulan Maret. Upacara ini berlangsung hampir seminggu dengan beberapa kegiatan hiburan rakyat sehingga berlangsung meriah.
F.     Kesimpulan
Suku Mandar merupakan suku di Sulawesi selatan yang belum terjangkau. Suku yang paling besar dan berpengaruh di wilayah Sulawesi barat. Daerah ini sudah dikuasai oleh islam, sehingga kerja keras menginjili diperlukan.
Suku Mandar membutuhkan peningkatan pengelolaan perkebunan agar lebih memberikan hasil yang maksimal. Disamping itu perlu dilakukan budi daya ikan cakalang dan penyu yang mempunyai nilai jual tinggi untuk meningkatkan pendapatan daerah. Suku mandar sangat tertutup terhadap penginjilan maka kerja keras dalam penginjilan dibututhkan dan berdoa supaya terbuka pada injil.
Salah satu cara penginjilan dalam penginjilan adalah menerjemahkan injil kedalam bahasa mandar baik cetak maupun elektronik. Budaya Kalulu atau Sikalulu digunakan dalam membangun dan bekerjasama untuk membangun masyarakat. Mata pencaharian mereka adalah bertani dan menangkap ikan. Jika jumlah suku mandar sekitar 250.000 jiwa dan beragama islam maka tugas sekarang adalah menginjili dan membawa mereka mengenal Kristus. Pendekatan terhadap suku ini harus lebih inovatif sebab dalam suku mandar ada juga suku bugis yang memiliki kesamaan karakter yakni tidak mau menerima perubahan apalagi mengenai keagamaan. Hal yang mungkin bisa dilakukan adalah mendekati dari segi ekonomi. Bukan hanya ekonomi tetapi pendidikan, yakni dengan membangun sekolah atau rumah sakit. Penginjilan itu bersifat sosial sehingga tidak curiga akan isu kristenisasi.

Tidak ada komentar: