Laman

Pelayanan Anak dan Pemuda

Selamat Datang, Syalom semoga tulisan ini Memberi inspirasi Bagi Pembaca.

Selasa, 25 September 2012

Masa Raya Natal



1.   LATAR BELAKANG SEJARAH
Natal berasal dari bahasa latin: Dies Natalis, yang juga sejajar dengan bahasa Prancis: Noel, dan Italia: Il natale, artinya kelahiran.
Masa raya natal adalah salah satu dari perayaan tahunan atau hari raya gereja disamping paskah dan pentakosta. Hari natal yang dirayakan oleh gereja merupakan adopsi dari tradisi Romawi, Mesir dan Gallia. Natal dirayakan selama sepekan yang disebut dengan masa raya natal. Masa raya natal berlangsung dari minggu-minggu adven selama 4 minggu. Masa adven di mulai antara 27 November dan 3 Desember. Lalu natal dirayakan pada 24 dan 25 Desember, dan terakhir dengan Epifania pada tanggal 6 Januari. Sepekan setelah natal diperingati sebagai hari Yesus disunat yang disebut okta dan diperingati pada tanggl 1 Januari. Natal adalah hari lahirnya Yesus Kristus, Allah dan manusia di dunia. Kisah kelahiran Yesus dikisahkan dalam Injil Matius dan Lukas. Natal tanggal 24-25 Desember adalah tradisi Romawi namun adven dan epifania adalah  Mesir yang berkembang sampai ke Spanyol. Hanya satu kebetulan masing-masing gereja baik Roma maupun Mesir, membawa perayaan perayaan ini pada abad ke-4 dari tradisi masyarakat setempat.
Natal yang dirayakan Gereja saat ini sebenarnya tidak dikenal dalam alkitab. Diceritakan dalam alkitab, hanya Herodes yang merayakannya (Mat 14:6). Gereja Ortodoks Timur mengenal perayaan Epifania (Kemunculan), yang dikenal pada abad III sM. Di Roma, Natal dirayakan pada akhir abad IV yang dirayakan pada 25 Desember. Tanggal tersebut menjadi perayaan kelahiran Tuhan Yesus. Perayaan tersebut dimaksudkan mengkristenkan Eropa melalui usaha ambil alih tradisi. Tradisi tersebut adalah kemenangan dewa matahari. Dalam sejarahnya gereja tidak langsung menerimanya tetapi diterima secara resmi dan merayakan bahkan paling meriah. Alkitab tidak panjang lebar menulis tentang kelahiran Yesus. Injil Markus tidak menulisnya, injil Lukas dan Matius yang menulis namun sedikit. Sama halnya dengan praktek perayaan Advent yang dianggap persiapan perayaan natal. [1] tradisi perayaan advent muncul pada abad ke IV. Dengan adanya perayaan tersebut semua orang dapat menikmati ibadah sesuai dengan pola yang sudah Yesus Tunjukkan. Adven merupakan persiapan sebelum natal yang diambil oleh gereja sesuai dengan tradisi masing-masing, kecuali gereja aliran sudah menghapuskannya dari perayaan gerejawi. Perayaan ini merupakan proklamasi Allah bagi penyataan kerajaanNya.
2.   BERMULA DARI EPIFANIA
Epifania berasal dari kata epipanea yang berarti penampakan diri, kedatangan, kelihatan. Epifania berasal dari perayaa musim salju di Mesir yang di rayakan pada tangal 6 Januari. Gereja mesir kemudian menjdikan hari ini menadi perayaan natal. Kata epifania telah diginaka dalam inji Yohanes 2:11.
Tradisi pesta masyarakat Mesir ini telah dirayakan sejak zaman Amenemhet I sekitar 1996 SM. Dua puluh tiga abad kemudian gereja Mesir mengadopsi menjadi peringatan akan penyataan Yesus. Sepanjang malam 5-6 januari orang-orang Alaksandria merayakan kelahiran dewa Aion yakni dewa waktu dan dewa keabadian, di dalam suatu perayaan khidmat itu air disapu dan dibuang dari sungai Nil. Kita akan melihat  gereja Mesir mengadopsi dan menetapkan tanggal kelahiran Yesus. Celemens dari Aleksandria menuliskan tentang tanggal kelahiran Yesus Yakni:
1.       Ada yang mengatakan Yesus lahir pada tahun ke-28 pemerintahan kaisar Agustus (31 SM-14 M), hari pachon yakni 20-25 Mei 3 tahu sebelum Masehi, atau menurut kalender Julian sejajar dengan 18 november.
2.      Sumber lain adalah pengikut Basilides, mengisahkan tentang hari pembaptisan Yesus, dimana Umat beribadah pada malamnya, yakni pada tahun ke-15 pemerintahan kisar Tiberius, hari ke-15 atau ke-11 bulan Tubi pembabtisan Yesus sebagai permulaan pelayananNya ketimbang KelahiranNya.
3.        Sumber ketiga menetapkan tanggal kelahiran Yesus menurut kalender Julian, ialah tanggal 24-25 pharmuthi yakni 19-20 April.
Perayaan epifania dalam gereja mengambil tema pelayanan Yesus. Ada beberapa tema yang layak di munculkan dalam epifania. Tema pertama adalah kisah kelahiran Yesus menurut Lukas 2:1-20 dan Matius 1:18-2:12) tema kedua adalah kisah baptisan yang diterima Yesus sebagai awal pelayananNya menurut Markus 1:9-11. tema ketiga adalah mujizat yang Yesus lakkan ketika perawinanan Di Kana menurut Yohanes 2:1-11. Minggu setelah epifania adalah hari Miggu pembaptisan Tuhan. Minggu ini juga dapat dipergunakan untuk pembaptisan. Minggu-minggu tersebut tidak disebut sebagai minggu biasa mlainkan minggu epifania I-IX, yakni permulaan pelayanan Yesus.
3.      ADVEN
Sejak tanggal 17 Desember hingga epifania 6 Januari, tak seorang pun diizinkn absent dari gereja. Ketetapan ini mengawali masa persiapan, termasuk persiapan calon baptis yang disebut adven dari kata adventus yang berarti kedatangan pendekatan, hal mendekati, menyongsong.  Roma yang merayakan natal 25 Desember melakukan masa persiapan beberapa pekan sebelum natal. Hal tersebut dapat dilihat melalui empat khotbah minggu Adven, seperti yang dilakukan gereja masa kini. Sekali pun adven semula adalah tiruan prapaskah, namun intisari tema adven berkisar pada penantian kedatangan Kristus yang kedua kali dan pengharapan tersebut dirayakan dengan gembira, sebab kedatangan Kristus telah nyata. Minggu pertama adven dimulai pada empat Minggu sebelum 25 Desember. Minggu adven keempat adalah minggu terakhir sebelum 25 desember.
                Makna Adven Dalam Liturgi
Adalah suatu kenyataan bahwa banyak gereja dan persekutuan Kristen tidak tahan dengan saat-saat penantian itu, sehigga banyak gereja yang merayakan natal pada waktu adven. Sebaknya adven tetap dirayakan sebagai adven yakni masa pengenangan dan pengaharapan, tema tersebut dijalin didalam liturgi adven guna memperkaya penghayatan Gereja. Bagian pertama, yakni adven pertama dan adven kedua menenakankan segi eskatologis  yakni pada parousia. Bagian kedua, adven ketiga dan adven keempat menekankan segi kelahiran Tuhan, yaitu pada anamnesis (pengenangan) dan inkarnasi. Dalam praktik tema-tema adven tersebut dimunculkan baik melalui nyanyian maupun pembacaan Alkitab.
Pembacaan Alkitab masa Adven
Adven pertama. diisi dengan tema sikap gereja dalam menantikan masa kedatanganNya yang membebaskan umat manusia. Perjanjian lama diambil dari kitab Yesaya, tentang kerajaan Mesianis pembawa damai yang akan mengimpunkan umatNya ( 2 :1-5,tahun A). kemurkaan Allah sebab umat berdosa (64:1-9,tahun B). mesianis itu berasal dari keturunan Daud untuk melaksanakan keadilanNya (Yer. 33:14-16, tahun C). Injil yang dibacakan adalah tentang berjaga-jaga akan kedatangan Tuhan kedua kali (Mat 24:44, tahun A;  Mark 13:24-37, tahun B; Luk 21:25-36, tahun C).
Adven kedua adalah pertobatan menuju langit baru dan bumi baru bagi segala bangsa, seluruh umat manusia sesuai dengan keadilanNya. Berita itu disampaikan melalui Yesaya 11:1-10 tahun A; Yes 40:1-11 tahun B, Barukh 5:1-9 (deutrokanonika) tahun C. dll 
Adven ketiga merupakan ajakan untuk mempersiapkan bagi kedatangan Tuhan. Pembacaan pertama tahun A diambil dari Yesaya 35:1-10, tahun B dibacakan Yes 61:1-4, 8-11. Pada Tahun C dibacakan Zef 3:14-20.
Adven keempat fokus kebaktian mengarah kepada kelahiran Tuahn di Betlehem. Para nabi memberitakannya pada pembacaan pertama. Pada tahun A, Yes 7:10-16, pada tahun B 2 Sam 7:1-11,16 dan pada tahun C Mik 5:2-5a. Ada tiga hal dari tema-tema adven yaitu:
1.             Mengingat waktu dulu ketika Yesus lahir di Betlehem oleh Maria
2.            Menyambut kedatanganNya di masa kini di zaman kita
3.             Menantikan kedatanganNya kembali dalam kemuliaan
4.      Perayaan Natal
Walaupun muncul natal 25 Desember secara kronologis adalah yang terakhir setelah ada epifania dan adven di Mesir dan Gallia, namun menerima hari kelahiran Tuhan Yesus adalah soal rumit. Gereja Roma tidak segera menerima pengalihan pesta sang surya itu sebagai hari kelahiran Sang Jururselamat.
Gereja Roma mengadopsi perayaan tradisional masyarakat romawi. Hippolytus dalam komentar terhadap kitab Daniel menuliskan bahwa kelahiran Yesus jatuh pada hari rabu 25 Desember pada tahun ke-42 masa pemerintahan kaisar Agustus. Hal 25 desember ini terlanjur diterima saja . naskah codes A dari abad ke-10 atau ke-11 bahwa natal dirayakan pada tanggal 25 Desember maupun 2 April. Dalam praktiknya tanggal 2 april ditolak sebab pengaruh Clemens bahwa kelahiran Yesus terjadi pada musim dingin atau terjadi pada Desember. Kemudian tanggal 25 itu dijadikan sebagai penyataan malaikat bahwa maria mengandung janin Yesus (luk 1:31) atau yang disebut hari raya kabar sukacita.
Mematok tanggal berdasarkan tanggal 14 nisan (pascha computus, perhitungan berangkat dari tanggal paskah menurut kalender Julian. Tanggal kelahiran Yesus dihitung berdasarkan kisah penciptaan, Abraham, kisah keluarnya Israel dari Mesir dan dihubungkan dengan paskah dan mengaitkan angka-angka simbolis. Kisah penciptaan langit dan bumi pada hari pertama menurut tradisi barat pada waktu itujatuh pada musim semiyakni 25 Maret.
Sementara di Roma, gereja merayakan 25 Desember sejak tahun 336 sebagaimana tercatat dalam Natus Christus in Betleem Judee, untuk menggantikan perayaan hari kelahiran sang surya tak terkalahkan (dies natalis solis invicti). Kelahiran Mithras sang dewa terang, kebenaran dan kebijaksanaan dirayakan pada 25 Desember. Sejak 336 natal telah dirayakan Gereja Roma pada tanggal 25 Desember jelas tanggal tersebut bukan tanggal kelahiran Yesus yang sesungguhnya melainkan strategi politis.
Liturgi natal
Umumnya gereja-gereja sebagai berikut :
1.       Hari raya kelahiran yesus pada senja antara pukul 18:00 dan tengah malam sekitar pukul 23:00 pada tanggal 24 Desember (misa natal). Kebaktian natal pertama ini adalahsatu dari liturgi malam. Pembacaan pertama pada tahun liturgi A,B,C adalah yes 9:1-6, pembacaan kedua Tit 2:11-14, Luk 2:1-20.
2.      Kunjungan para gembala menjumpai sang bayi pada fajar (misa surya) ibadah natal kedua ini dilasanakan sekitar pukul 06:00.
3.       Inkarnasi Allah menjadi manusia berdasarkan Yoh 1:1-14 pada tanggal 25 Desember (misa siang). Ibadah natal ketiga ini dilangsungkan sekitar pukul 10:00.
Oleh: Pdt (Cand). Daud Nompi, M.Si dan  Ezra Tari




[1] Einar Sitompul, Gereja Menyikapi Perubahan, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006), 132-134

Rabu, 12 September 2012

katekisasi


A.   PENGERTIAN

Menurut Abineno, istilah- istilah yang berkaitan dengan katekisasi yaitu:
1.    Katekhein artinya memberitahukan, memberitakan, mengajar, memberi pengajaran.Mengajar dalam artian membimbing orang supaya ia melakukan apa yang diajarkan kepadanya
2.    Didaskein artinya menyampaikan pengetahuan dengan maksud supaya orang yang diajar itu dapat bertindak dengan terampil sesuai dengan apa yang diajarkan kepadanya,terutama segala sesuatu yang Kristus perintahkan.
3.    Ginoskein artinya pengetahuan mereka peroleh tentang kehendak Allah karena pergaulan yan intim dengan Dia dan yang menyatakan diri dalam suatu hidup yang taat kepadanya.
4.    Manthanein artinya kata yang mengindikasikan suatu realitas dimana terdapat suatu persekutuan yang tetap antara murid- murid dan Yesus sebagai Tuhan yang hidup,yaitu Tuhan yang memanggil mereka untuk mengikutiNya dan melakukan apa yang Ia ajarkan kepada mereka
5.    Paideuein artinya mendidik dan membimbing anggota- anggota jemaat untuk belajar berjalan di jalan pengudusan dan tetap berjalan di jalan itu.
Dari istilah- istilah tersebut diatas, katekisasi adalah membimbing anggot- anggota jemaat khususnya yang masih muda ke dalam perkataan- perkataan Allah dan perbuatan- perbuatan Allah seperti yang terdapat dalam Alkitab.Maksudnya adalah supaya mereka belajar untuk hidup bersama- sama dengan Allah dibawah pimpinan Roh Kudus dan didalam persekutuan dengan Yesus Krisus, Anak Allah itu.
Menurut Fitriani Anna Gasong, katekisasi adalah memberitakan dan mengajarkan Firman Tuhan kepada setiap orang Kristen agar dapat bertumbuh menuju kepada kedewasaan.

Menurut Lembaga Pendidikan Kader katekisasi adalah proses perkembangan antara kehidupan agama yang ditinggalkan dan kehidupan baru sebagai anggota Kristen dan anggota jemaat.

Menurut Minggu, katekisasi adalah salah satu dari sekian banyak tugas gereja yang intinya adalah memberikan pengajaran kepada anak- anak atau pemuda yang akan didewasakan imannya.

Berdasarkan uraian diatas, dapat dikatakan bahwa katekisasi adalah membimbing dan mengajar anggota jemaat khususnya yang masih muda kepada pengenalan yang benar akan Allah untuk diteguhkan sebagai anggota jemaat yang dewasa dalam iman.


B.   SEJARAH KATEKISASI GEREJA.

Menurut Abineno, sejarah katekisasi dibagi ke dalam 6 zaman, yaitu:
1.    Pada zaman Perjanjian Baru
Pada zaman ini katekisasi gerja masih sangat sederhana. Unsur  pengakuan iman misalnya tidak lebih panjang dari pengakuan, bahwa Yesus adalah Tuhan.Bimbingan ethis dan doa juga penting dalam katekisasi jemaat- jemaat purba.Misalnya bentuk yang tetap dari doa Bapa Kami dalam Matius 6:9 – 15.

2.    Pada abad Pertama
Pada masa ini orang sudah memakai katekismus yaitu Didakhe atau ajaran kedua belas Rasul.Katekismus ini berasal dari lingkungan orang- orang Kristen Yahudi dan ditulis sekitar tahun seratus Masehi.Isinya adalah kedua jalan atau hukum- hokum untuk hidup orang Kristen, petunjuk liturgis untuk pelayanan Baptisan dan perjamuan malam, peraturan –peraturan untuk hidup jemaat dan pejabat- pejabatnya, dan nasihat yang bersifat eskatologis.
Dalam abad kedua katekisasin umat makin berkembang dan memperoleh bentuk- bentuk  yang tertentu sebagai katekumenat yang terdiri dari dua tingkatan yaitu katekumin- katekumin atau pengikut katekisasi, dan tingkat calon –calon baptisan.

3.    Zaman abad Pertengahan
Dalam abad –abad ini katesasi gereja makin lama makin mendangkal.Katekisasi tidak lagi diberikan kepada anak- anak dari keluarga- keluarga Kristen, tetapi hanya diperuntukan kepada orang- orang yang berpindah dari agama kafir ke agama Kristen sebagai persiapan untuk menjadi anggota gereja.
Dalam abad ke delapan dan sembilan ketika berita injil disampaikan kepada bangsa- bangsa German,katekisasi gereja mengalami suatu perubahan.Pada waktu itu dituntut lagi bahwa orang- orang yang mau menerima baptisan harus dipersiapkan dengan baik.Setelah Eropa di-Kristenkan, pengajaran katekisasi merosot lagi seperti dahulu dan hanya terdiri dari penghafalan pengakuan iman dan doa, pengenalan akan sakramen- sakramen dan upacara- upacaranya dan pengetahuan akan daftar- daftar dosa, pengakuan dosa yang makin lama makin besar memainkan peranan.Pengakuan dosa merupakan semacam “kursi pengadilan” rohani,yang dengan keputusan- keputusan dan hokum- hukumnya mencakup seluruh hidup anggota jemaat bahkan sampai pada akhirnya Alkitab tidak mendapat tempat sebagai bahan khusus dalam katekisasi.Ia memang kdang- kadang dikutip tetapi hanya untuk menjelaskan bahan- bahan yang harus dipelajari.

4.    Pada zaman Reformasi.
Alkitab menjadi pusat dalam teologi dan dalam praktek gereja.Penempatan ini menimbulkan perubahan besar di bidang katekisasi.Dalam zaman reformasi ini perubahan berlangsung di tiga bidang,yaitu:
-          Isi katekisasi, yaitu Alkitab menjadi sentral dalam katekisasi.Untuk dapat memahami bahan- bahan yang harus dipelajari dengan baik, pesert- peserta katekisasi disuruh menghafal sejumlah nas dan mempelajari beberapa cerita Alkitab.Bahkan pada abad ketujuh belas cerita- cerita Alkitab oleh pengaruh pietisme mendapat tempat yang khusus dalam katekisasi.
-          Ruang cakup katekisasi, yaitu mencakup semua orang.Sebab sebagai imam, orang- orang percaya menurut para reformator harus selengkap dan sebaik mungkin mengetahui kebenaran yang ia percayai.Teologia harus menjadi milik dar semua orang.Luther berpendapat bahwa tempat katekisasi adalah keluarga dan sekolah.Gereja mempunyai tugas lain yaitu memberikan penjelasan lebih luas oleh khotbah katekismusnya tentang apa yang dipelajari dalam katekisasi.Sedangkan Swingli, katekisasi sebenarnya adalah tugas pokok dari gereja.Karena itu ia berusaha memperoleh ruang dimana gereja dapat menunaikan tugas ini antara laindengan mengumpulkan ank- anak untuk mempelajari pengakuan iman dan doa.Calvin juga setuju dengan Swingli.Pada tahun 1536 ia menerbitkan iktisar dari institusionya sebagai katekismus dalam bahasa Perancis.
-          Cara mempelajari bahan katekisasi:Luther menuntut agar para pengikut katekisasi harus mengerti apa yang dipelajarinya.Pengetahuan dengan otak dan pengetahuan dengan hati hars berjalan bersana- sama.Injil harus dapat dimengerti dengan otak dan dapat dipahamidengan hati.Oleh karena itu penjelasan katekismus  harus sesuai dengan daya tangkap anak- anak.

5.    Zaman Zending Belanda
Kebiasaan- kebiasaan yang dipakai oleh gereja- gereja di Eropa di bidang katekisasi  di bawah masuk oleh pendeta- pendeta Zending ke Indonesia.Salah satu dari kebiasaan itu adalah katekisasi yang erat dihubungkan dengan pengajaran agama di sekolah.Dalam Sidang Raya Agung tahun 1624 di Betawi ditetapkan bahwa anak- anak Belanda dan bukan Belanda harus dididik secara Kristen di sekolah dan bahwa untuk pelajan agama selanjutnya anak- anak itu harus mengunjungi pengajaran katekisasi gereja.Lanjutan pengajaran agama di sekolah adalah pengajaran katekisasi yang diberikan oleh pendeta- pendeta di gereja.Salah satu buku katekisasi yang paling besar dan paling lama memainkan peranan dalam pelayanan jemaat di gereja- gereja di Indonesia adalah buku Tanya jawab yang ditulis oleh Marnix van St.Aldegonde.
6.    Zaman Sekarang
Dalam hal pengajar katekisasi pada zaman sekarang adalah orang- orang yang telah memperoleh Pendidikan Agama Kristen.Dimana mereka memiliki pengetahuan tentang bahan –bahan katekisasi yang mereka gunakan, metode pengajaran, alat- alat Bantu untuk katekisasi, dan lain – lain.Juga buku- buku yang digunakan dalam pengajaran katekisasi tidak sama dengan buku- buku yang digunakan pada waktu zending, walaupun Katekismus Heidelberg, katekismus kecil, dari Luther masih ada gereja yang menggunakannya.


C.   JENIS- JENIS KATEKISASI

Menurut Abineno ada 3 jenis katekisasi yaitu :
1.    Katekisasi Keluarga
Keluarga adalah tempat yang mula-mula dimana pendidikan dan bimbingan agama diberikan, orang tua berfungsi sebagai pengajar –pengajar yang pertama. Pengajaran dalam keluarga ini adalah bentuk purba dari pelayanan katakese, pemberitaan tentang perbuatan-perbuatan Allah yang besar.
Bukan hanya Sinagoge yang mengaitkan pengajarannya pada pendidikan keluarga tetapi juga gereja. Hal itu sering kita baca dalam tulisan-tulisan dari bapak-bapak gereja bahwa katakese keluarga menempati tempat yang paling penting dalam gereja purba yang sedang bertumbuh pada waktu itu. Gereja tahu bahwa ia mempunyai tugas untuk mengajar dan membimbing anggota-angotanya tetapi tugas itu selalu dipahami sebagai tugas disamping dan dalam lanjutan dari tugas orang tua tetapi mengokohkannya dan terus membangun katakesenya diatas dasar katakese  keluarga.
Menurut Calvin orang tua terutama dan langsung memikul tanggung jawab atas pendidikan agama anak-anak mereka. Dalam pembaptisan anak-anak, orang tua dengan resmi mendapat tugas mendidik anak-anak dalam takut akan Tuhan.
2.    Katekisasi Sekolah
Sekolah dasar disebut juga beth-ha-sefer dimana anak-anak yang berumur 6/7 tahun diajar membaca dan menghafal nas Torah secara harafiah. Pengajaran diatur menurut umur anak-anak. Ketika anak sudah berumur sepuluh tahun anak mulai dengan pengajaran yang sebenarnya. Pada umur dua belas/tiga belas tahun mereka diwajibkan untuk meneruti/melaksanakan seluruh syariat agama Yahudi.
Bahan pengajaran terdiri dari pengakuan iman, doa utama, pembacaan Torah, pengajaran tentang arti dari hari-hari raya Yahudi.
Dalam abad-abad pertengahan muncul sekolah-sekolah yang memuat katakese dalam kurikulumnya. Dimana murid-murid harus mengahafal Credo, Dekalog (Dasa Firman), Pater Noster (Doa Bapa Kami) dan ketujuh Mazmur pengakuan dosa dalam bahasa latin.
Menurut Calvin katakese sekolah berfungsi untuk mendidik orang-orang muda supaya mereka dapat bertindak secara bertanggungjawab menurut Firman Tuhan, untuk itu harus ada guru-guru yang baik dan beriman. Dalam pengajaran sekolah yang bersifat reformatories ini, Alkitab mendapat tempat yang sakral, disamping katekismus dan mazmur-mazmur Daud. Melalui sinode Dordrecht diputuskan bahwa guru-guru yang mengajar di sekolah harus memenuhi syarat-syarat :
-          Mereka harus anggota dari gereja Hervormd.
-          Harus mempunyai kelakuan yang baik dan mampu mengajar
-          Mereka harus menandatangani pengakuan iman gereja Hervorm dan Katekismus Heidelberg.
-          Harus berjanji bahwa dengan teliti akan mengajar anak-anak untuk dapat melayani Tuhan disegala bidang kehidupan.
-          Dua hari seminggu mereka harus melatih anak-anak untuk menghafal dan memahami dengan baik isi Katekismus
-          Mereka harus membawa anak-anak ke ibadah khotbah-khotbah Katekismus dan menyelidiki apakah mereka mengerti khotbah-khotbah itu atau tidak
Sedangkan         di Indonesia dalam sidang Agung di Betawi di tetapkan bahwa anak –anak Belanda dan bukan Belanda harus dididik dan diajar secara Kristen  di sekolahdan bahwa untuk pelajaran agama selanjutnya anak- anak itu harus mengunjungi
Syarat-syarat guru yaitu:
-          Harus seorang anggota sidi
-          Harus dapat langsung membaca buku- buku dan surat- surat yang di cetak
-          Harus dapat menulis dan berhitung dengan baik
-          Harus dapat menyanyikan Mazmur- mazmur Daud.

3.    Katekisasi gereja.
Dalam abad- abad pertama katekisasi gereja makin berkembang dan memperoleh bentuk- bentuk tertentu sebagai  katekumenat. Katekumenat  gereja purba terdiri dari dua bagian atau tingkatan yaitu tingkat katekumin- katekumin dan calon- calon baptisan.
Pengajaran baptisan terdiri dari penjelasan tentang soal- soal iman,doa,puasa,dan askese.Pengajaran baptisan adalah suatu bimbingan dalam rahasia iman.Calon baptis dipersiapan secara lahir-batin untuk menerima baptisan sebagai suatu pengalaman religius.
Pada waktu reformasi katekisasi lebih kepada lembaga pengajaran tersendiri kepada anak- anak muda.Terutama pemberitaan dalam ibadah -ibadah jemaat dianggap pada waktu itu sebagai suatu alat yang ampuh untuk mendidik anak- anak muda dalam Firman Allah dan dalam hidup kerohanian mereka.Khotbah- khotbah katekismus dari para pendeta memainkan peranan pentingpada waktu itu sebagai bagian dari
pendidikan gerejawi kepada anak muda.

D.   FUNGSI KATEKISASI
Menurut Gasong katekisasi berfungsi untuk mempersiapkan anak- anak dan orang yang ingin mengikuti jalan keselamatan dari Yesus Kristus,dan juga untuk mendidik, membimbing dan mengarahkan anggota jemaat tentng kehendak Allah supaya mereka nantinya menjadi pelayan yang dapat melayani gereja dan masyarakat secara bertanggung jawab.

E.   TUJUAN KATEKISASI
Menurut Abineno tugas katekisasi adalah mendidik anak- anak muda  supaya mereka bertanggung jawab dapat berpartisipasi dalam hidup dan pelayanan gereja kepada Allah.
Abineno kemudian merumuskan tujuan katekisasi menurut beberapa ahli kedalam empat jurusan:
a)    Katekisasi adalah pemberian pengetahuan.Peserta katekisasi harus mengetahui hal- hal pokok dari isi Alkitab dan ajaran gereja
b)    Katekisasi bertujuan untuk membina anggota –anggota jemaat untuk menyadari tugas mereka didalam gereja.Peserta katekisasi harus mengetahui bahwa gereja adalah persekutuan.
c)    Untuk mendidik anak- anak muda supaya mereka menjadi hamba- hamba Allah yang bertanggung jawab didalam dunia.
d)    Untuk menyampaikan pengetahuan tentang Allah dari generasi ke generesi.
Menurut Abineno tujuan katekisasi itu dapat dicapai apabila peserta
katekisasi telah dipimpin pada pengetahuan akan Kristus sebagai Tuhan dan juruselamat  mereka.

Menurut Lembaga Pendidikan Kader,katekisasi bertujuan untuk memperlengkapi calon anggotanya atau anggota baptis yang ingin mengikuti sidi,dengan maksud agar mereka akan menjadi anggota dewasa dalam iman.

F.    YANG TERLIBAT DALAM KATEKISASI

1.    Majelis Jemaat
Majelis jemaat bertanggung jawab atas pelaksanaan katekisasi.Tugas majelis jemaat dalam katekisasi adalah :
a.    Meunjuk pemimpin katekisasi
b.    Menyiapkan rencana katekisasi tahunan
c.    Membangunkan orang tua tentang katekisasi melalui warta jemaat,supaya mereka menyuruh anak- anaknya untuk mengikuti katekisasi
d.    Mengusahakan agar orang tua terlibat dalam katekisasi
e.    Mengadakan percakapan dengan peserta katekisasi
f.     Mengawasi supaya tugas dan panggilan peserta katekisasi sebagai saksi-saksi dan pelayan- pelayan Kristus di dalam dunia,kalau mereka telah di teguhkan menjadi anggota sidi di bicarakan dengan mereka di dalam katekisasi
g.    Menerima peserta katekisasi sesudah suatu percakapan pastoral dengan mereka untuk diteguhkan menjadi anggota sidi.
2.    Pemimpin Katekisasi         
Yang menjadi pemimpin katekisasi kebanyakan adalah pendeta.Namun dalam prakteknya pelaksanaannya tidak terlalu maksimal karena:
a.    Pendeta sangat sibuk dalamtugas dan pelayanannya
b.    Pendeta umumnya hanya mempunyai pengetahuan teologis,mereka kurang dalam bidang pedagogis,didaktik, psikologis,dan iain- lain.
Tugas- tugas pemimpin katekisasi:
a.    Menyusun rencana katekisasi tahunan
b.    Mempersiapkan katekisasi atau bahan dengan baik
c.    Menilai materi yang telah diajarkan
d.    Mengadakan percakapan dengan peserta katekisasi,khususnya tentang hal- hal yang tidak dapatmereka cerna atau sulit mereka pahami
e.    Mengadakan pertemuan denganpara orang tua dan majelis jemaat untuk membicarakan tugas mereka bersama atau hal- hal lain yang berhubungan dengan tugas mereka
f.     Mengadakan kunjungan ke rumah- rumah para orang tua untuk membicarakan keadaan anak- anak mereka yang sedang mengikuti katekisasi.
3.    Orang tua
Pada waktu orang tua menyerahkan anak- anaknya untuk dibaptis,mereka berjanji untuk mendidik anak- anak mereka dalam iman kepada Yesus Kristus dan membina mereka dalam ibadah dan pengajaran gereja.Dalam hal ini tugas orang tua adalah bukan hanya menyuruh anak-anak mereka untuk mengikuti katekisasi tetapi lebih daripada itu yaitu turut menambil bagian yang aktif dalam pelayanan itu.
              Tugas –tugas orang tua yaitu:
a)    Membicarakan partisipasi mereka sebagai orang tua dalam pelayanan katekisasidengan majelis jemaat dan pemimpin- pemimpin katekisasi
b)    Mengadakan percakapan dengan pemimpin katekisasi tentang keadaan anak- anak yang mengikuti katekisasi
c)    Mengadakan percakapan dengan anak- anak mereka tentang katekisasi yang sedang mereka ikuti.

4.    Peserta katekisasi
Peserta katekisasi adalah umumnya terdiri dari ank- anak muda yang bukan saja secarah lahiriah, tetapi yang juga secara rohaniah banyak memperlihatkan perbedaan, seperti:
a)    Perbedaan motivasi,ada yang datang mengikuti katekisasi karena disuruh orang tua,ada juga Karena kemauannya sendiri.
b)    Perbedaan umur
c)    Perbedaan pendidikan
d)    Perbedaan maksud dan tujuan,ada yang datang untuk mendalami pengetahuan tenang soal- soal rohani.
Dari perbedaan- perbedaan tersebut pendidk diharuskan untuk mampu memahami setiap peserta katekisasi sehingga dia bisa mempersiapkan materi dengan baik untuk bisa diterima oleh sebagian besar peserta katekisasi.


G.   DUNIA PESERTA KATEKISASI

Menurut Abineno, dunia kita pada waktu kini merupakan dunia yang paling bersifat teknis dan juga sebagai dunia yang paling kosong dan miskin apabila ditinjau dari sudut rohani.Yang dimaksud kekosongan dan kemiskinan ialah gejala yang menyatakan bahwa soal- soal rohani dan nilai etis tidak memainkan peranan lagidalam hidup manusia,ini disebabkan oleh kuasa ilmu pengetahuan kuasa teknik dan kuasa organisasi.Kuasa-kuasa inipada satu pihak banyak memberikan kemungkinan dan kebahagiaan kepada manusia tetapi di lain pihak dalam perkembangannya membuat manusia menjadi takut dan hampir- hampir kehilangan kewibawaannya.
Peserta katekisasi kebanyakan berumur duabelas sampai duapuluh tahun, yang mana merupakan periode peralihan yakni dari masa kanak- kanak ke masa dewasa.Dalam masa ini pilihan untuk pelajaran dan juga bimbingan katekisasi sangat penting karena mereka sebaai anak- anak muda harus dibantu dalam perjalanan mereka ke dunia orang dewasa.Oleh karena itu yang perlu diprhatikan adalah hidup pertumbuhan atau perkembangan anak- anak.Menurut para ahli perode ini di bagi lagi ke dalam sub-sub periode yaitu:
a)    Periode umur 12-13 tahun yaitu anak memiliki wawasan pengetahuan yang mulai meluas, mereka melihat segala sesuatu dan mereka umumnya mempunyai daya ingat yang cukup kuat.
b)    Periode umur 14-15 tahun dimana anak mengalami perubahan-perubahan yang besar. Anak-anak sedang berpisah dengan hal-hal yang lama dan mempersiapkan diri untuk hal-hal yang baru, mereka harus menemukan diri mereka sendiri.
c)    Periode umur 16 tahun keatas yaitu anak-anak mengalami pendalaman psikis. Berhubung dengan itu dapat timbul situasi-situasi krisis yang disebabkan untuk kesangsian dan putus asa yanga mereka alami, juga dibidang religius.
Yang kita harus ketahui tentang anak- anak dari periode peralihan ialah penghayatan iman mereka.Untuk itu mereka harus secara aktif diikutsertakan dalam segala sesuatu yang gereja –gereja lakukan untuk mereka.

Selasa, 11 September 2012

PASTORAL TERHADAP ORANG MENJELANG AJAL


A.    LATAR BELAKANG
Kematian adalah peristiwa yang merupakan suatu kejadian yang pasti dialami oleh setiap orang. Tidak ada seorangpun yang dapat lepas dari kematian. Ada banyak ungkapan yang sering diungkapkan orang mengenai kematian, misalnya kematian adalah bagian dari kehidupan, kematian merupakan akhir dari kehidupan, kematian ialah berpisahnya tubuh dengan roh,bahkan kematian kadang disebut kesempurnaan dari kehidupan.
            Ungkapan – ungkapan tersebut diatas banyak mempengaruhi orang didalam menghadapi kematian, termasuk orang Kristen. Ada bahasa iman yang sering kita dengar mengatakan bahwa kematian bukanlah akhir dari segala – galanya melainkan pintu masuk kedalam hidup yang sesungguhnya. Pertanyaan yang muncul apakah hal tersebut benar – benar sudah diimani dan diamini oleh orang percaya dalam hal ini umat kristiani.
            Kita perlu membuka mata untuk melihat realitas kehidupan orang percaya, disana sini ada banyak orang yang takut untuk mati, bahkan keragu – raguan membayangi mereka, dan terus bertanya apakah benar kematian bukan akhir segala – galanya ? Perasaan – perasaan seperti itu juga di rasakan oleh orang – orang yang sudah sakit parah dan yang menurut ukuran  para medis sudah dalam keadaan menjelang ajal. Ketakutan terhadap kematian adalah merupakan bayang – bayang gelap yang selalu menghantui dan begitu menakutkan bagi sebagian orang. Ada banyak “ sikap modern terhadap kematian dan sekarat ditandai oleh kecemasan, ketakutan dan sikap menghindar “[1] Dari pernyataan tersebut diatas dapat kita lihat bahwa kekuatiran dan kecemasan masih menjadi bagian dari orang – orang modern termasuk orang Kristen ketika dalam keadaan sekarat, menghadapi kematian. Kuatir dan cemas merupakan sikap yang idealnya tidak seharusnya dimiliki oleh orang percaya, akan tetapi itulah kenyataan yang tidak terbantahkan.
            Dengan demikian pertanyaan mendasar yang perlu kita jawab adalah “ Apa yang menjadi penyebab sehingga ada sebagian orang yang dalam keadaan sekarat  atau dalam keadaan menjelang ajal merasa kuatir dan cemas untuk menghadapi kematian “ ? Serta bagaimana mendampingi mereka dalam rangka memberikan penguatan, rasa aman sehingga dapat dengan penuh damai sejahtera mempersiapkan diri masuk kepada kematian. Pendampingan yang dimaksud  di khususkan terhadap pasien  menjelang ajal  yang sementara dirawat di rumah sakit.


B.     PEMBAHASAN
Untuk mengetahui dengan pasti waktu kematian itu tiba tentu tidak seorangpun yang dapat memastikannya. Kematian datang tanpa pemberitahuan terlebihdahulu. Kenyataan yang ada sangat jelas kita lihat bahwa kematian tidak memilih – milih orang, tua maupun muda, orang yang kelihatannya sehat maupun orang yang sedang menderita penyakit. Akan tetapi ada banyak kematian yang didahului dengan penderitaan lewat penyakit. Penyakit kadang menjadi penyebab atau pintu masuk kedalam peristiwa kematian atau dengan kata lain pemakaian kata kematian untuk menggambarkan transisi peralihan “ kematian “ banyak digambarkan sebagai jalan.[2] Pada peristiwa pintu masuk inilah yang akan menjadi pokok penekanan pendampingan pastoral, dalam hal ini terhadap orang  menjelang ajal.
            Keadaan menjelang ajal yang dimaksud adalah suatu keadaan orang yang  menderita penyakit parah, dalam hal ini atas pernyataan dokter yang biasanya disebut penderita penyakit stadium akhir. Apakah orang menjelang ajal mengetahui keadaan mereka ? Orang yang menderita penyakit parah bisa merasakan keadaannya namun sulit untuk mendefinisikan apakah mereka dalam keadaan menjelang ajal atau belum.Kebingungan akan mereka alami apabila dokter serta perawat mengatakan bahwa mereka baik- baik saja bertentangan dengan rasa sakit yang makin hari makin bertambah mereka alami ditambah lagi perhatian dari para perawat dari hari ke hari begitu sangat berlebihan kepadanya, karena  “definisi perawat atas status penyakit pasien mempengaruhi perilaku mereka terhadap pasien, karena waktu terjadinya perubahan, definisi ini amatlah menentukan”.[3] Keadaan pasien yang makin buruk dicirikan oleh  tingkah laku dokter dan perawat yang dilihat dan dirasakannya. Ketidakterbukaan para medis membuat pasien merasa dibohongi, dan secara kejiwaan menambah rasa curiga muncul dalam hati pasien yang sebenarnya akan menimbulkan tekanan batin yang luar biasa. Bahkan pihak keluarga sendiri tidak menginginkan apabila pasien mengetahui keadaan yang sebenarnya, walaupun keluarga sudah diberitahu oleh para medis. Jadi situasi pasien  yang sudah sekarat ini sangat tepat digambarkan sebagai pasien yang hidup dalam suatu persekongkolan diam.[4] Sikap orang – orang yang berada disekitar baik dari kalangan para medis maupun dari pihak keluarga sendiri banyak menimbulkan dampak negatif bagi orang yang dalam keadaan menjelang ajal. Walaupun ada maksud baik dari mereka untuk menyembunyikan  keadaan yang sebenarnya, keadaan seperti ini dapat disebut “ dusta penuh kasih “ yakni menyembunyikan keakraban emosional antara individu  yang sedang mendekati ajalnya dan kelarganya. [5] Namun sisakit juga dapat merasakan bahwa sebenarnya ada sesuatu yang disembunyikan daripadanya. Hal inilah yang  membuat  mereka merasa tidak nyaman serta merasa kesepian di tengah – tengah keramaian, itu yang menjadi persoalan besar yang sedang dialaminya.
            Dalam rangka mendampingi orang menjelang ajal maka hal yang perlu diketahui oleh pastor adalah pemahaman umum manusia dalam menghadapi kematian bahwa manusia yang pada umumnya dalam segala hal suka mempertahankan diri , wajib menerima dimana  pada suatu ketika akan menemui ajalnya. Bahwa dunia dan masyarakat akan berjalan terus tanpa dia. Dan ingatan kepadanyapun lama-kelamaan akan hilang.[6] Pemahaman manusia akan dirinya mengenai kematian  banyak mempengaruhi sikap mereka  dalam menghadapi kematian. Oleh karena itu ada banyak hal yang perlu di ketahui oleh pastor yang akan  banyak mendukung  maksimalnya pelayanan pastoral hal tersebut menyangkut :
a.      Apa yang Alkitab katakan mengenai kematian.
Dalam Alkitab ada kita baca, bahwa kematian ada kaitannya dengan dosa, lihatlah Roma 5:12 “ sebab itu sama seperti dosa telah masuk kedalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang sudah berbuat dosa”. [7] Itu berarti bahwa pemahaman orang Kristen terhadap kematian adalah bahwa kematian itu terjadi akibat dari dosa yang tak seorangpun luput daripadanya, dan hal ini dapat menjadi dasar bagi  setiap orang dalam melihat kematian. Pemahaman seperti ini sangat perlu dimiliki konselor sebagai modal dasar dalam mendampingi konseli. Kemudian paham yang dapat dijadikan bahan perbandingan yakni pemahaman agama-agama yang sudah lama memainkan peranan dalam sikap manusia terhadap kematian , misalnya dalam agama animistis, seorang        “ dukun “ sering hadir di kamar orang sakit yang menghadapi  maut, supaya dengan perantaraan dukun itu jiwa manusia di hantar ke tempat kediaman jiwa-jiwa orang mati, dunia nenek moyang dan sebagainya. Rupanya agama animistis juga melakukan pendampingan terhadap pengikutnya ketika menjelang ajal. Tidak hanya sampai disitu hal yang tidak kalah pentingnya diketahui oleh Konselor adalah bagaimana situasi yang ada pada orang yang menjelang ajal dalam menjalani hidupnya ditengah-tengah keadaan  yang sangat tidak menentu dengan dasar atas keterangan dokter bahwa tidak ada harapan lagi baginya untuk sembuh. Seorang gembala harus memperhitungkan keterangan dokter itu, tanpa melupakan dalam hatinya bahwa bagaimanapun juga, selalu ada kemungkinan bahwa yang sakit itu akan menjadi sembuh. Tuhan memang tidak terikat pada keterangan dokter. Ada dua kemungkinan yang dialami oleh orang yang menjelang ajal :
1.      Si sakit tidak sadar lagi.
2.      Si sakit masih sadar dan bisa bercakap-cakap.[8]
Dengan mengetahui bahwa ternyata ada dua kemungkinan yang dialami oleh si sakit yakni tidak sadarkan diri dengan kata lain tidak dapat lagi untuk diajak berkomunikasi atau tidak lagi dapat mencurahkan isi hatinya. Keadaan kedua si sakit masih bisa diajak untuk berbicara dan dalam keadaan ini dia masih bisa membagikan atau mengatakan apa yang sementara dia rasakan. Dalam masing-masing betuk situasi sisakit diatas, itu yang menjadi bahan bagi gembala untuk masuk kedalam medan pelayanan. Koselor semestinya tahu persis  keadaan sisakit sehingga antara situasi 1 dan situasi 2 mengunakan pendekatan yang cukup berbeda. Keadaan Konseli harus menjadi dasar  bagi Konselor untuk melangkah. Pendekatan terhadap orang yang sudah tidak sadar berbeda dengan orang sakit yang masih sadar. Seperti yang  dikatakan oleh Bons Storm bahwa “ walaupun seorang   sakit payah tidak sadar lagi, kita tidak tahu apakah ia sama sekali tidak lagi mendengar dan merasa. Kadang-kadang si sakit berada dalam keadaan “samar-samar”. Walaupun si sakit tidak mendengar apa-apa yang dikatakan kepadanya, namun keadaannya tidak boleh dibicarakan di depannya atau di dekatnya. Barangkali  si sakit masih dapat mendengarnya, dan ia akan merasa dipandang sebagai “ sasaran  “ yang dibicarakan.[9] Segala kemungkinan sebaiknya harus dijaga oleh gembala, karena ketika si sakit dianggap tidak dapat mendengarkan dan gembala banyak bercerita tentangnya maka sisakit akan merasa tidak tentram. Itu berarti kehadiran gembala menambah beban sisakit, oleh karena itu sebaiknya seorang gembala bersikap bijak dengan memperhatikan tindakan dan ucapan. Apabila si sakit memperlihatkan gejala yang samar-samar, apalagi kalau sudah tidak bisa diajak untuk berbicara, maka yang paling baik dilakukan oleh gembala adalah mengunjungi dia dan duduk sejenak disamping tempat tidurnya., sambil memegang  tangannya. Perhatian yang dinyatakan oleh kehadiran si gembala itu, walaupun hanya dengan berdiam diri saja, dapat merupakan hiburan yang mendalam kepada seorang yang sakit payah.[10] Itu berarti bahwa kehadiran benar-benar  membawa manfaat yang sangat berarti bagi si sakit. Penghiburan merupakan kebutuhan yang sangat diharapkan oleh si sakit, dan ketika hal itu ada maka mereka akan merasa sedikit tenang. Kehadiran gembala ditempat sisakit dirawat sangat berarti bila “ gembala mengarahkan pehatiannya kepada kaum keluarga si sakit. Mereka sekarang menghadapi kematian seorang yang dikasihi. Gembala mencoba menguatkan hati mereka supaya mereka boleh tabah menghadapi perawatan yang mungkin berat dan sulit, dan supaya mereka cukup percaya kepada Tuhan untuk menanti melepaskan orang yang dikasihi itu kedalam tangan Tuhan. Dengan demikian kehadiran gembala berfungsi ganda, yakni mendampingi si sakit yang sementara menanti ajalnya dan mendampingi keluarga yang dengan setia mendampingi si sakit. Itu kemungkinan pertama yang di hadapi oleh si sakit yakni tidak sadarkan diri. Kemungkinan kedua adalah bahwa : si sakit masih sadar dan masih bisa bercakap-cakap.
            Dalam keadaan ini tentu si sakit masih bisa di ajak untuk berbicara , masih bisa mengungkapkan isi hatinya bahkan masih bisa mendengarkan orang-orang yang datang menjenguknya. Dalam keadaan seperti itu ada tantangan yang muncul karena kecenderungan si sakit  sama dengan orang yang pada umumnya belum mau mati, orang yang lanjut umurpun masih berpegang kepada kehidupan  dengan  sekuat-kuatnya. Ada orang yang takut, ada orang yang memberontak, ada orang yang ingat kepada orang-orang yang dikasihi yang harus di tinggalkannya.[11] Itu merupakan bentuk perasaan manusia pada umumnya yang sangat perlu diperhatikan oleh gembala. Dikatakan tadi diatas bahwa ada tantangan yang dialami oleh gembala oleh karena sifat dasar manusia yang cenderung mempertahankan hidup tanpa melihat apa mereka masih mampu bertahan hidup  di tengah-tengah penderitaan yang sangat berat. Sikap seperti itulah yang banyak membuat gembala sedikit kesulitan  dalam melakukan pendampingan dan membutuhkan kesabaran yang cukup. Di samping itu ada banyak yang harus di lakukan dan juga di hindari oleh gembala, misalnya : harus banyak mendengarkan, tidak terlalu banyak mengucapkan kata-kata  atau kalimat-kalimat saleh, banyak memberi perhatian, menghindari kata-kata seperti : “ saudara harus percaya, seorang Kristen tidak boleh  takut akan kematian, lebih baik saudara berserah saja.[12] Kata-kata  seperti itu tidak banyak menghibur melainkan akan semakin banyak menambah beban bagi si sakit, jadi lebih baik tidak di ucapkan. Banyak bicara tidak terlalu cocok dilakukan dalam mendampingi orang menjelang ajal, karena yang ada di dalam hati si sakit dapat berupa goncangan batin yang begitu hebat sehingga untuk mendengarkan nasihat akan menambah pemberontakan yang sangat besar. Langkah bijak yang dapat menolong gembala dalam pendampingan adalah dengan cara “ membayangkan bahwa ia sendiri berbaring di tempat tidur itu dan menghadapi maut. Bagaimana perasaannya ? Bagaimana pergumulannya ? Bagaimana sikapnya dalam situasi yang penuh dengan kesusahan ini? Belum tentu dengan mudahnya untuk percaya dan berserah saja.[13] Memberi nasihat kepada seseorang dapat dengan mudah dilakukan, akan tetapi pertanyaannya apakah dengan nasihat yang kita berikan tersebut dapat menolong mereka untuk merasa lebih baik atau malah membuat mereka semakin tertekan. Memberi nasihat  tanpa mengetahui kondisi batin seseorang dapat menjadi kesalahan yang sangat fatal. Oleh karena itu dalam rangka melakukan pendampingan yang tepat sasaran hal yang perlu dilakukan adalah “ menyelidiki situasi seseoarang  yang menghadapi maut dengan teliti. Pada umumnya manusia mencoba menangkis kematian berdasarkan ketakutan. Ketakutan ini terdiri dari 3 unsur:
-Ketakutan, karena ia akan hilang dari dunia, melenyapkan diri.
-Ketakutan, karena akan berpisah dari orang-orang yang dikasihi, keluarga, sobat.
- Ketakutan, karena ia berdosa dan tidak akan masuk sorga.[14] Disini dapat kita lihat ternyata ada 3 unsur yang menjadi penyebab orang takut  menghadapi kematian. Yang pertama bayangan bahwa setelah mati ia akan hilang  dari dunia dengan kata lain akan lenyap dari proses kehidupan di dunia, Itu berarti ada keinginan untuk bisa tetap berada di dunia ini. Keinginan seperti itu membuatnya takut untuk menghadapi kematian oleh karena paham bahwa orang yang sudah mati akan meninggalkan kehidupan di dunia ini. Ketakutan yang kedua disebabkan oleh karena tidak mau meninggalkan orang-orang yang dikasihinya, orang-orang yang sudah banyak memberi arti bagi hidupnya. Dengan demikian tidak mau lepas dari kebersamaan yang sudah terjalin. Ketakutan yang ketiga disebabkan oleh perbuatan dosa yang telah diperbuat. Dan tentu ketakutan yang muncul bukan  hanya sebatas karena dia sudah berbuat dosa namun karena paham yang di anutnya bahwa ketika seseorang berbuat dosa maka akan menerima  hukuman atau tidak masuk surga. Hukuman yang akan diterima setelah mati membuat orang takut untuk mati karena kematian dilihat sebagai jalan masuk untuk menerima hukuman. Ternyata ketakutan-ketakutan seperti itu menimbulkan sikap-sikap didalam diri si sakit, apalagi bila si sakit tahu bahwa penyakitnya tidak bisa lagi disembuhkan. “ maka sikapnya pada umumnya adalah begini :
A.Sambutan pertama : penolakan.
B. Lalu :kemarahan.
C. Lalu : tawar-menawar.
D. Lalu : kesedihan.
E. Lalu : penyerahan diri/berserah.[15]                                                                                                                                                                                      Kelima sikap ini merupakan suatu respon si sakit terhadap penyakitnya yang diketahui bahwa tidak akan sembuh lagi, sikap ini saling berkaitan satu sama lainnya, yang di mulai dengan : penolakan, kemarahan, tawar-menawar, kesedihan, penyerahan diri atau berserah. Dalam setiap tahap ada alasan, mengapa sisakit bersikap demikian  yang perlu diketahui oleh gembala, karena dengan pengetahuan itulah gembala dapat mengerti dan dapat memberi pengertian terhadap si sakit. Sikap pertama, yakni penolakan dari si sakit muncul karena anggapannya bahwa  “ barangkali dokter salah, barangkali ada kekhilafan. Tidak mungkin saya akan meninggal! Mesti ada kemungkinan untuk sembuh ! Baiklah saya mencari dokter lain, atau pergi ke dukun!”. Ungkapan seperti itu sering di ucapkan orang yang sudah mendengar bahwa penyakitnya tidak bisa sembuh lagi.[16] Itu yang menjadi alasan sekaligus penyebab sehingga ada sikap penolakan. Penolakan merupakan reaksi dari ketidak mampuan menerima kenyataan, karena kenyataan yang ada berbanding terbalik dengan keinginan.  Dan ketika kita mencoba membayangkan apa yang sedang dirasakan oleh si sakit maka akan ada rasa maklum terhadapnya. Kemudian sikap yang mengikuti penolakan adalah kemarahan , kemarahan adalah salah-satu reaksi seorang yang sudah sakit parah. Secara umum manusia marah karena ada sesuatu yang tidak disukainya, atau ada yang diharapkan lalu tidak tercapai. Bisa juga karena kejadian yang terjadi tidak diinginkannya. Begitupula yang dialami oleh orang yang sakit parah tentu ada yang mendasari mereka bersikap seperti itu, seperti yang dikatakan Bons Storm bahwa : isi kemarahan ini dapat disimpulkan dengan “ kenapa saya? Kenapa saya mendapat nasib ini ?” apa yang membuat orang sakit marah lebih hebat ialah bahwa ia tidak tahu, kepada siapa ia akan menujukan kemarahannya, kepada Tuhan ?[17] Kemarahan kadang ditujukan kepada Tuhan dengan dasar bahwa Tuhan yang memberikan penyakit dan juga kepada para medis yang tidak sanggup menyembuhkan penyakitnya. Lalu kemudian ada sikap lain yang muncul yakni tawar-menawar. Inti dari sikap ini ada semacam nazar yang diungkapkan oleh sisakit sebagai respons karena menurut mereka Tuhan tidak mendengarkan kemarahannya. Kemudian ada rasa sedih, fase ini adalah merupakan puncak dari sikap sisakit. Ia sedih karena tak ada yang dapat menolongnya, menurutnya Tuhan tidak menjawab doa-doanya, usaha-usaha tidak ada yang berhasil . Untuk dapat masuk pada fase selanjutnya yakni penyerahan diri atau berserah, sejauh mana perhatian dan kasih dari pihak keluarganya dan juga dari pihak  gembala.[18] Sehingga sisakit dapat keluar dari kesedihannya dan dengan demikian dapat berserah penuh kepada Tuhan.
            Dengan mengetahui apa yang sedang di alami dan dirasakan oleh orang menjelang ajal seorang gembala akan lebih baik mendampingi orang tersebut. Lalu apa yang sebaiknya  dilakukan oleh gembala setelah mengetahui dan mengenali  seluk-beluk sisakit. Bons Storm mengatakan dengan mengutip ungkapan Willem Berger bahwa “ penghiburan gereja tidak sama dengan mengatakan kepada sisakit bagaimana ia seharusnya. Jadi penghiburan gereja bukan “ saudara harus percaya  “ atau “ saudara harus menyerahkan diri kepada Tuhan ” tetapi penghiburan gereja ialah persekutuan yang tercipta kalau seorang sakit diperbolehkan mengatakan apa yang ada didalam hatinya.[19] Dengan demikian menjadi pendengar yang baik adalah hal yang sangat perlu dilakukan oleh seorang gembala. Hal yang sangat pentig di ingat gembala bahwa menggunakan ayat-ayat Alkitab sangat mendukung pelayanan namun dengan tetap ,melihat konteks, kalau memungkinkan ayat yang cocok adalah : Amsal 3: 5,6; dan yang sejenisnya yang sifatnya penguatan, dan doa adalah hal yang sangat penting.

DAFTAR PUSTAKA         
Field, David, Pendampingan orang menjelang ajal, Yogyakarta, kanisius, 1994
Hockey. Jennifer, , Pengalaman – pengalaman menjelang ajal, Jakarta, BPK Gunung Mulia, 1993
storm Bons, , Apakah penggembalaan itu, Jakarta: BPK, Gunung Mulia, 2001



[1]  David, Field Pendampingan orang menjelang ajal, Yogyakarta, kanisius 1994, hal 94.
[2] . Jennifer, Hockey, Pengalaman – pengalaman menjelang ajal, Jakarta, BPK Gunung Mulia, 1993, hal 59
[3] .David, field op.cit hal 62.
[4] .Ibid  hal 63.
[5] .Jennifer,Hockey, op.cit hal 70.
[6] .Bons,storm, Apakah penggembalaan itu, Jakarta: BPK, Gunung Mulia, 2001, hal 231.
[7] Ibid Hal 233.
[8]  Ibid Hal 234.
[9]  Ibid.
[10] Ibid Hal 235.
[11] Ibid.
[12] Ibid
[13]  Ibid.
[14]  Ibid Hal 235-236.
[15]  Ibid Hal 236.
[16] Ibid Hal 236-237.
[17] Ibid Hal 237.
[18] Ibid Hal 238
[19] Ibid Hal 240-241.